Studio Foto Sinar Cipta, Keindahan Nostalgia yang Tetap Bercahaya

SEMARANG, Banggasemarang.id – Jika Anda berkunjung ke Jalan Petudungan, tak jauh dari Kawasan Pecinan, akan terlihat sebuah studio foto lawas yang tetap memancarkan pesonanya hingga saat ini – Sinar Cipta namanya.

Meskipun tampak sederhana dari luar, dengan bangunan kecil yang mungkin terlewatkan, studio ini telah menyaksikan jejak langkah para artis Ibu Kota yang pernah menghiasi dindingnya dengan karya foto indah. Dalam deretan foto cetak berbagai ukuran yang terpajang di etalase, dominasi warna hitam-putih memberikan nuansa klasik dan mewah.

Bertemu dengan pemiliknya, Yuwono Budi Santoso, yang kini berusia 84 tahun, kita dibawa melintasi waktu ke tahun 1969, ketika studio ini pertama kali berdiri. Meski langkahnya mungkin sudah berat, tetapi senyumnya tetap hangat ketika dia menceritakan sejarah studio fotonya.

Yuwono, yang bukan asli Semarang namun lahir di Jakarta, mengenal dunia fotografi sejak masa kecilnya di ibu kota. Meski pada masa itu peralatan fotografi belum sepraktis sekarang, semangat Yuwono tetap membara. Studio Sinar Cipta miliknya telah merekam banyak cerita, termasuk momen ketika dia masih menggunakan kamera obscura.

Ketika ditanya mengenai kamera favoritnya, Yuwono mengakui lebih menyukai keluaran Jerman, meskipun saat ini dia menggunakan Canon EOS 60D. Kelegendarisan Sinar Cipta terpancar dari setiap sudut studionya yang klasik, dengan peralatan fotografi, tema, dan latar belakang yang masih mempertahankan keaslian era 90-an.

Salah satu keistimewaan studio ini adalah kemampuan hasil foto cetaknya yang tetap awet hingga 50 tahun. Foto-foto hitam-putih yang terpajang di etalase menjadi saksi bisu dari keahlian Yuwono dalam pengolahan foto. Menurutnya, rahasia keawetan tersebut terletak pada proses pencucian obat yang cermat dan pemilihan kertas yang tepat.

Mengintip ke dalam etalase, mata kita disuguhi oleh foto-foto artis terkenal, termasuk yang paling mencolok, yaitu foto Nicholas Saputra. Dengan bangga, Yuwono bercerita bahwa kebanyakan artis yang dipotretnya kebetulan sedang syuting di sekitar Pecinan atau Kota Lama.

Selain melayani artis, Sinar Cipta juga pernah menjadi saksi bisu dari sesi foto model dan penyewaan kostum dengan harga terjangkau. Namun, seiring berjalannya waktu, layanan ini berakhir setelah sang istri meninggal pada tahun 1999. Kini, Yuwono hanya dibantu oleh anaknya, Yunnika, dalam proses editing foto.

Meskipun mengalami masa kejayaan pada dekade 1970-1980, Sinar Cipta masih tetap buka hingga saat ini. Meski keterbatasan usia dan pesaingan dari teknologi visual modern, studio ini masih menjadi tempat nostalgia bagi mereka yang menghargai keindahan klasik dalam dunia fotografi. Sebuah warisan yang tetap bersinar di tengah gemerlapnya zaman.