Kisah Menyentuh dari Kampung Tematik Logam Bugangan, Dentingan Suara Logam Yang Kini Semakin Meredup

SEMARANG, Banggasemarang.id – Di tepi sungai Banjir Kanal Timur, Kota Semarang, suara logam yang beradu dengan palu masih menggema, menciptakan melodi yang meski nyaring, namun terasa penuh keharuan. Kawasan Bugangan, yang kini dikenal sebagai Kampung Tematik Logam, merupakan pusat pengolahan logam yang telah menjadi bagian hidup warga sejak medio 1970-an.

Dahulu, jalan di sekitar Bugangan, juga dikenal sebagai Barito, dipenuhi dengan peralatan rumah tangga berbahan logam. Kompor minyak, oven, ceret, dandang, wajan, mesin penggiling, serta berbagai pernak-pernik logam lainnya menghiasi kawasan ini. Marino, seorang lelaki berusia 69 tahun yang telah menjalani bisnis perkakas logam sejak 1976, mengenang bahwa kompor minyak adalah produk yang paling diminati pada masa itu.

Meski demikian, Marino sadar bahwa masa kejayaan perkakas logam di Bugangan mulai meredup. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Dengan tekad kuat, Marino terus berupaya menciptakan produk berkualitas tinggi agar pelanggannya tetap setia.

Begitu pula dengan Henny Handayani, yang telah menjalankan bisnis logam selama 10 tahun terakhir. Ia mengakui adanya penurunan signifikan dalam penjualan panci dan produk logam lainnya sejak kawasan Barito digusur pada tahun 2018. Kios-kios yang dulu berdiri kokoh di sekitar sungai tersebut dipindahkan, dan kawasan itu kini menjadi Taman Banjir Kanal Timur.

Henny merasa sedih dengan penggusuran tersebut karena berdampak besar pada penjualan produk logam di tempatnya. Meskipun demikian, ia tidak larut dalam kesedihan. Henny menjelaskan bahwa masih ada pembeli yang datang, terutama mereka yang mencari produk spesial untuk warung, hotel, hingga restoran.

Produk-produk yang dijual oleh Henny terlihat kokoh dan berkualitas, sesuai untuk peranti industri. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu untuk produk berukuran 25 sentimeter hingga Rp 1 juta untuk ukuran 50 sentimeter.

Seiring angin yang berdesir, perkakas logam di Bugangan bergoyang-goyang. Panci dan wajan saling beradu, menciptakan denting-denting lirih yang khas di kampung tersebut. Semoga, meskipun dalam kesedihan, logam di Bugangan tetap akan berdenting dan melanjutkan kisahnya.