Mengulik Kisah Manis Nasi Glewo, Kuliner Semarang yang Hampir Hilang

SEMARANG, Banggasemarang.id – Di tengah gemerlap kota yang terus berubah, satu kelezatan kuliner khas Indonesia nyaris terlupakan, yaitu nasi glewo. Padahal, pada masa kejayaannya di tahun 1970-an, nasi glewo menjadi favorit banyak lidah.

Cerita menarik ini terungkap ketika terdapat seorang penjual nasi glewo yang turut menjadi peserta Festival Kuliner Nusantara ‘Lezaatnesia’ di Semarang. Di antara deretan stand festival yang berjejer, hanya satu orang yang berani membawa kembali kuliner langka ini.

Penampakan nasi glewo yang dijajakan hampir menyerupai bubur pada umumnya, namun kuahnya memberikan nuansa berbeda dengan rasa sayur terik yang khas, serta aroma kencur yang menggoda selera.

Rika Narulita, pembuat Nasi Glewo ini, membagikan rahasia kelezatan hidangannya. Selain bahan utama koyor (bubur nasi) dan daging sapi, kuah berbasis santan dan penambahan emping melinjo menjadi kunci nikmat Nasi Glewo.

“Ini bedanya dari Nasi Ayam, selain dagingnya, ada kencurnya,” cerita Rika dengan senyum.

Tak hanya lezat, Nasi Glewo juga terjangkau bagi semua kalangan, dihargai Rp 20 ribu saja sudah termasuk sebotol air mineral. Pembelinya mayoritas adalah keluarga dan individu yang merindukan cita rasa Nasi Glewo yang sulit dicari sejak tahun 1990-an.

Rika, dengan kecintaannya pada Nasi Glewo, menjadi penjaga tradisi meski nyaris punah. Meskipun ibunya dulu sempat berjualan, namun, sayangnya, usaha tersebut tidak dilanjutkan.