SEMARANG, Banggasemarang.id – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Ari Nugroho, mengusulkan tiga program strategis untuk memastikan status Jawa Tengah sebagai penyangga pangan nasional benar-benar berdampak pada kesejahteraan petani.
Ketiga usulan krusial ini ditargetkan masuk dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jateng tahun 2026.
Menurut Setya Ari, surplus produksi gabah Jawa Tengah yang mencapai angka 8,89 juta ton harus dibarengi dengan kebijakan perlindungan infrastruktur dasar di tingkat usaha tani, khususnya di wilayah selatan seperti Banyumas dan Cilacap.
“Jateng surplus 9 juta ton itu catatan baik. Tugas kita sekarang pastikan petani dan nelayan Banyumas-Cilacap juga merasakan manfaatnya. Yang paling krusial dan bisa langsung dikerjakan: air, tempat simpan hasil, dan kepastian pasar,”tegas Setya Ari saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler, Rabu (16/6/2026).
Ketiga gagasan program terukur yang diusulkan meliputi revitalisasi irigasi mikro, pembangunan lumbung pangan desa dan fasilitas cold storage, serta fasilitasi kemitraan langsung antara kelompok tani atau nelayan dengan sektor industri dan ritel modern.
Terkait irigasi, Setya Ari menyoroti pentingnya perbaikan saluran tersier untuk menjaga stabilitas masa tanam. Usulan ini merespons temuan Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng yang mencatat adanya penurunan luas panen padi sebesar 5,36 persen pada 2024.
Sementara itu, pembangunan fasilitas penyimpanan atau cold storage di setiap kecamatan ditujukan untuk memangkas angka penyusutan pascapanen.

Melalui fasilitas ini, petani memiliki keleluasaan waktu untuk menyimpan hasil panen dan menjualnya saat harga pasar sedang tinggi. Pemprov Jateng juga didorong untuk membuka jalur kontrak langsung antara petani dan pabrik demi memotong rantai tengkulak.
Sebagai informasi, Jawa Tengah saat ini menduduki peringkat kedua nasional sebagai lumbung pangan setelah Jawa Timur. Data BPS mencatat produksi 2024 mencapai 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara 5,11 juta ton beras. Angka ini diproyeksikan Kementerian Pertanian akan terus tumbuh sebesar 4,64 persen menjadi 9,30 juta ton GKG pada tahun 2025.
Kendati data makro menunjukkan tren positif, Setya Ari berkomitmen akan mengawal porsi anggaran infrastruktur pertanian di wilayah selatan agar mendapat porsi yang lebih berkeadilan di APBD mendatang.
“Branding Jateng sebagai lumbung pangan harus dibarengi kerja nyata di lapangan. Kalau irigasi lancar, hasil panen ketampung, jualnya nggak lewat tengkulak, itu baru ketahanan pangan yang dirasakan rakyat,” pungkasnya.












