SEMARANG, Banggasemarang.id – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang resmi memberlakukan penutupan total pada ruas Jalan Gombel Lama mulai Senin (20/4/2026) hingga tujuh bulan ke depan untuk proyek rekonstruksi tebing dan perbaikan drainase guna mengantisipasi ancaman longsor di masa depan.
Kebijakan ini menjadi “obat pahit” yang harus ditelan warga, terutama bagi para komuter yang setiap harinya bergantung pada jalur legendaris penghubung kawasan Banyumanik-Ungaran dengan pusat Kota Atlas. Kini, urat nadi itu harus berhenti berdenyut sejenak demi transformasi infrastruktur yang lebih kokoh dan aman bagi pengguna jalan.
Penyebab jalan Gombel ditutup
Keputusan untuk menutup total akses utama ini diambil bukan tanpa alasan yang mendesak. Berdasarkan data teknis, kawasan Gombel Lama memiliki kerawanan tinggi terhadap pergerakan tanah, terutama saat intensitas curah hujan meningkat. Drainase yang lama dinilai sudah tidak mampu menampung debit air, yang memicu risiko amblesnya badan jalan.
Baca juga: Sering Jadi Titik Rawan, Ini Tips Lewati Tanjakan Gombel Semarang dengan Aman
Pihak berwenang menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk mitigasi bencana jangka panjang. Langkah ini adalah ‘obat pahit’ yang harus kita ambil bersama demi memastikan keselamatan masyarakat.
Penutupan total dilakukan guna memberikan ruang manuver alat berat yang luas dalam memasang dinding beton pracetak, sehingga nantinya struktur bukit tetap stabil meski dihantam cuaca buruk.
Proyek tebing Gombel terbaru
Dalam pengerjaan kali ini, Pemerintah Kota Semarang menggunakan teknologi dinding penahan tanah terbaru untuk memperkuat struktur bukit secara menyeluruh. Proyek ini mencakup rekonstruksi struktur jalan yang ambles dan pembaruan sistem drainase agar air tidak lagi meresap ke dalam pori-pori tanah yang dapat memicu longsor.
Namun, di balik urgensi proyek tersebut, efek domino di jalur alternatif mulai dirasakan warga. Media sosial mulai diramaikan oleh keluhan para komuter. Akun Instagram @infokejadian_semarang misalnya, dipenuhi komentar netizen yang terjebak kepadatan.
“Gombel ditutup, Sigar Bencah jadi lautan motor. Berangkat jam 6 pagi pun masih telat kantor karena semua numpuk di sana!” tulis akun @andi_smg.
Keluhan senada juga datang dari @santi_pujii, “Udah macet, gelap, tanjakannya bikin kopling bau sangit!”
Jadwal penutupan Gombel 2026
Sesuai jadwal resmi, penutupan ini dimulai pada Senin, 20 April 2026, dan diperkirakan akan berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan. Selama masa pengerjaan, rekayasa lalu lintas akan diberlakukan secara ketat selama 24 jam penuh.
Untuk meminimalkan potensi kemacetan parah, Dishub bersama Satlantas Polrestabes Semarang telah menyiapkan skema navigasi berikut:
- Gombel Baru (Jl. Setiabudi): Diberlakukan sistem dua arah.
- Jalur Tol: Pengguna jalan sangat disarankan menggunakan Tol Banyumanik-Jatingaleh untuk mengurangi beban di jalur arteri.
- Jalur Alternatif Mahasiswa/Warga Tembalang: Dapat memanfaatkan jalur baru UNDIP menuju Jalan Wahidin.
- Akses Lokal: Warga di sekitar Gombel dapat memutar di bawah Flyover Jatingaleh menuju Jalan Taman Teuku Umar.
Ketegasan juga diberlakukan bagi kendaraan angkutan barang. Truk dan kendaraan berat dilarang keras melintasi jalur ini selama masa proyek berlangsung.
Bagi warga Semarang Atas, penutupan ini menuntut adaptasi waktu perjalanan yang lebih awal. Mengandalkan aplikasi navigasi seperti Google Maps kini menjadi kewajiban untuk memantau titik macet akibat kendaraan mogok di tanjakan alternatif yang curam.
Kesabaran masyarakat hari ini adalah investasi agar esok hari, perjalanan menuju puncak bukit Gombel tidak lagi dihantui kecemasan, melainkan kenyamanan berkendara yang sesungguhnya.












