SEMARANG, Banggasemarang.id — Siang itu, matahari menggantung tepat di atas bangunan-bangunan tua di kawasan Kota Lama, memantulkan cahaya yang lembut pada dinding berwarna krem dan jendela-jendela besar bergaya kolonial.
Di antara lorong sejarah itu, langkah kaki para wisatawan seolah mengalir menuju satu titik yang sama—sebuah toko oleh-oleh yang tak pernah benar-benar sepi.
Begitu pintu kaca dibuka, hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambut, berpadu dengan aroma khas yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Hangat, sedikit manis, dengan jejak kelapa yang dipanggang—aroma yang membuat siapa pun seketika merasa lapar, atau mungkin… rindu.
Di dalamnya, rak-rak besi dan etalase kayu tertata rapi, dipenuhi kotak-kotak berwarna cerah. Setiap kemasan menyimpan satu hal yang sama: wingko babat Semarang, kudapan sederhana yang telah lama menjadi simbol perjalanan pulang.
Baca juga: 7 Oleh-oleh Khas Semarang yang Paling Dicari Wisatawan Saat Ini
Seorang perempuan dengan langkah pelan berjalan menuju rak tengah. Tangannya menyentuh satu per satu kotak yang tersusun, seolah menimbang bukan hanya rasa, tetapi juga kenangan yang akan dibawa bersamanya. Di dekat kasir, selembar daftar harga terpajang—ringkas, tanpa banyak ornamen. Di tempat ini, rasa tampaknya tak perlu dijelaskan panjang lebar.
Di dinding bagian dalam, sebuah papan kayu terpajang dengan ukiran gambar kereta api yang melaju kencang. Tulisan “Wingko Babad Cap Kereta Api” terpatri tegas, seperti menegaskan identitas yang telah bertahan lintas waktu. Nama itu bukan sekadar label, melainkan warisan.
Toko ini berdiri di Jalan Cendrawasih No. 14, tepat di jantung Kota Lama. Lokasinya strategis mudah dijangkau, dekat dengan berbagai titik wisata, dan menjadi persinggahan yang hampir selalu masuk dalam daftar perjalanan. Bagi banyak orang, mampir ke sini bukan lagi pilihan, melainkan kebiasaan.
“Rekomendasi wingko terbaik. Kalau jalan-jalan ke Semarang, nggak lupa mampir ke sini,” ujar Fika, seorang pengunjung yang baru saja selesai memilih beberapa kotak. Ia tersenyum sambil merapikan bawaannya, seolah sudah tahu betul bahwa oleh-oleh ini akan disambut hangat di rumah.
Tak jauh dari sana, Asti berdiri dengan dua kotak di tangannya. Ia membuka sedikit kemasan, memperhatikan teksturnya, lalu kembali menutupnya dengan hati-hati.
“Manisnya pas, gurih kelapanya kerasa banget. Jadi salah satu oleh-oleh wajib kalau ke Semarang,” katanya.
Kalimat-kalimat sederhana itu seolah mewakili banyak orang. Bahwa wingko babat cap kereta api bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari pengalaman. Ia hadir di sela-sela perjalanan, di antara lelah berjalan kaki menyusuri Kota Lama, di tengah panas yang kadang menyengat, lalu menjadi penutup yang manis sebelum pulang.
Di balik rasa itu, ada kesederhanaan yang justru menjadi kekuatan. Terbuat dari kelapa parut, gula, dan tepung ketan, wingko menghadirkan kombinasi rasa manis dan gurih yang seimbang.
Teksturnya kenyal, dengan bagian luar yang sedikit kering akibat proses pemanggangan. Saat digigit, aroma kelapa terasa lebih kuat, seolah mengingatkan pada dapur-dapur tradisional yang masih setia mempertahankan cara lama.
Namun, yang membuat wingko babat Semarang begitu istimewa bukan hanya soal rasa. Ia adalah medium kenangan.
Setiap kotak yang dibawa pulang sering kali memiliki tujuan yang jelas—untuk orang tua, untuk pasangan, untuk teman kerja, atau bahkan untuk diri sendiri. Ada cerita yang ikut terbawa: tentang perjalanan singkat, tentang tawa di jalan, tentang foto-foto di bangunan tua, hingga tentang rasa lelah yang terbayar.
Di dalam toko, aktivitas terus bergerak. Pegawai melayani pembeli dengan cekatan, suara plastik kemasan terdengar berulang, dan sesekali percakapan ringan mengisi ruang. Tak ada yang benar-benar terburu-buru, namun semuanya berjalan dengan ritme yang pasti.
Di luar, kendaraan berlalu-lalang. Seorang pengendara motor berhenti sejenak di depan toko, membaca papan bertuliskan “Parkir Khusus Wingko Babad.”
Ia mematikan mesin, lalu melangkah masuk mungkin dengan niat yang sama seperti banyak orang sebelumnya: membeli rasa yang sudah ia kenal, atau mungkin ingin ia kenali kembali.
Di tengah gempuran oleh-oleh modern yang terus bermunculan, dengan kemasan yang semakin menarik dan varian rasa yang beragam, kuliner khas Semarang seperti wingko tetap bertahan dengan caranya sendiri. Ia tidak banyak berubah. Tidak mencoba menjadi sesuatu yang lain.
Dan justru di situlah letak kekuatannya. Kesederhanaan itu menjadi jangkar. Sesuatu yang membuat orang kembali, lagi dan lagi.
Karena pada akhirnya, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi. Tapi juga tentang apa yang dibawa pulang dan di Semarang, banyak orang sepakat yang dibawa pulang itu adalah wingko babat Semarang.
Bukan sekadar oleh-oleh khas Semarang, tetapi juga potongan kecil dari sebuah kota. Sebuah rasa yang mungkin sederhana, namun mampu menyimpan begitu banyak cerita.
Saat langkah kaki menjauh dari toko itu, aroma kelapa seakan masih tertinggal di udara. Dan di dalam tas yang dibawa pulang, tersimpan lebih dari sekadar makanan. Tersimpan kenangan.












