Tanah Gerak Brebes: 532 Jiwa Terancam, Luthfi Kebut Relokasi

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau lokasi pengungsian bencana tanah gerak Brebes di Kecamatan Sirampog dan berdialog dengan warga terdampak.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meninjau kondisi pengungsi dan menyerahkan bantuan bagi korban bencana tanah gerak di Sirampog, Brebes, Rabu (18/2/2026).

BREBES – Kasus Tanah Gerak Brebes kian mengkhawatirkan. Sebanyak 175 kepala keluarga di Kecamatan Sirampog terpaksa mengungsi. Langkah ini diambil demi keselamatan nyawa 532 jiwa tersebut.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, merespons cepat situasi ini. Ia memastikan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi para korban. Kepastian ini ia sampaikan saat meninjau langsung lokasi pengungsian, Rabu (18/2/2026).

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momen koordinasi penting. Luthfi memimpin Rapat Penanganan dan Penyerahan Bantuan di Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al Munawir, Sirampog. Ia menekankan pentingnya keselamatan warga di atas segalanya.

“Untuk tanah gerak ini, langkah paling utama adalah memindah orang dan barang,” tegas Luthfi di hadapan jajarannya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak bekerja sendirian. Mereka telah berkoordinasi intensif dengan Badan Geologi Kementerian ESDM. Tim ahli merekomendasikan lahan yang aman secara teknis untuk relokasi.

Rencananya, pemerintah akan membangun huntara di lokasi baru. Lahan tersebut berada di petak 34G milik KPH Perhutani Pekalongan Barat. Lokasi ini dinilai jauh lebih aman dari risiko pergerakan tanah susulan.

Dampak Masif Bencana

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes mencatat kerusakan cukup parah. Sedikitnya 143 rumah warga terdampak bencana tanah gerak Sirampog ini. Rinciannya, 10 rumah rusak berat dan 124 lainnya terancam roboh.

Kerusakan tidak hanya menimpa hunian warga. Dua tempat ibadah dan dua fasilitas pendidikan juga mengalami keretakan. Selain itu, akses jalan desa sepanjang 700 meter ambles dan memutus mobilitas warga.

Kondisi terkini Desa Sridadi Brebes menunjukkan tanah masih aktif bergerak. Tingginya curah hujan di wilayah perbukitan memicu ketidakstabilan tanah. Arah longsoran terus bergerak ke barat daya.

Situasi ini membuat kawasan tersebut menjadi zona merah. Sebagai salah satu lokasi rawan longsor Brebes, potensi pergerakan susulan masih sangat tinggi. Luthfi meminta warga mematuhi arahan petugas di lapangan.

“Saya minta warga jangan kembali ke rumah masing-masing dulu. Kondisinya masih sangat berbahaya,” ujar mantan Kapolda Jateng tersebut.

Penanganan Pengungsi

Saat ini, warga memusatkan aktivitas di pengungsian Pondok Pesantren Bahrul Qur’an Al-Munawir, Dukuh Limbangan. Petugas telah mendirikan dapur umum untuk menjamin pasokan makanan. Operasional dapur ini menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT).

Gubernur Luthfi juga menyalurkan bantuan senilai total Rp175,97 juta. Bantuan ini merupakan kolaborasi berbagai instansi. Pihak penyalur meliputi BPBD, Dinsos, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, hingga PMI Provinsi Jateng.

Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, menyambut positif langkah cepat ini. Ia mengapresiasi kehadiran langsung Gubernur beserta jajaran OPD terkait.

“Masyarakat Brebes tidak perlu khawatir lagi. Kita gotong royong, semua kebutuhan sudah disiapkan oleh dinas Provinsi Jawa Tengah,” kata Mitha.

Cerita Para Penyintas

Dampak sosial bencana ini sangat terasa bagi warga. Susi Susanti, warga Dukuh Bojongsari, harus mengungsi bersama tiga anaknya. Salah satu anaknya bahkan masih bayi berusia 10 bulan.

Susi berharap bantuan spesifik segera datang. Ia sangat membutuhkan perlengkapan bayi seperti popok, sabun, dan minyak telon. Keselamatan anak-anak menjadi prioritas utamanya saat ini.

Kecemasan serupa dirasakan oleh Tona. Rumah kayunya berada persis di pinggir hutan dan dekat sungai. Ia mengaku tidak bisa tidur tenang setiap kali hujan deras turun.

“Sekarang kondisinya lebih parah. Tanahnya cepat sekali bergerak,” ungkap Tona dengan nada cemas.

Ia sangat berharap pemerintah segera merealisasikan relokasi. Tona ingin pindah ke hunian tetap yang benar-benar aman. Ia ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang longsor.

Sebagai informasi, bencana ini bermula pada Rabu (28/1/2026). Cuaca ekstrem memicu pergerakan tanah di lereng dengan kemiringan 45 derajat tersebut.

Baca lagi.

Taj Yasin Pastikan Huntara Tegal Logistik Ramadan Aman