Kawasan Industri Jateng Topang 33% Sektor Pengolahan

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berdiskusi dengan Kepala BPS Jateng mengenai data Kawasan Industri Jawa Tengah dan Sensus Ekonomi 2026.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (kanan), menerima laporan kontribusi triliunan rupiah dari Kawasan Industri Jawa Tengah terhadap PDRB jelang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, Rabu (11/2/2026).

SEMARANG — Siapa sangka, Kawasan Industri Jawa Tengah kini jadi “mesin uang” baru bagi daerah. BPS mencatat kontribusinya tembus triliunan rupiah, siap mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah 2026 ke level yang lebih tinggi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, Ali Said, memaparkan data terbaru ini secara rinci. Ia menyebut Kawasan Industri Jawa Tengah (KI) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) memberikan dampak nyata. Total kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 1,87 persen.

Angka tersebut merepresentasikan nilai ekonomi yang sangat besar. KEK menyumbang 0,98 persen dengan nilai mencapai Rp4,86 triliun. Sementara itu, kawasan industri menyumbang 0,89 persen atau sekitar Rp4,43 triliun.

Lebih lanjut, Ali menyoroti dampak positif pada sektor manufaktur. Gabungan KEK dan KI berkontribusi 3,70 persen terhadap Industri Pengolahan. Hal ini membuktikan peran vital investasi Jawa Tengah dalam menjaga stabilitas produksi daerah.

“Itu lumayan besar terhadap perekonomian,” kata Ali saat audiensi dengan Gubernur Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu (11/2/2026).

Menurut Ali, angka fantastis ini baru berasal dari industri yang sudah beroperasi saat ini. Potensi

kontribusi PDRB Jawa Tengah akan makin besar di masa depan. Hal ini akan terjadi ketika seluruh kawasan beroperasi secara penuh.

Ratusan perusahaan kini tercatat aktif dalam ekosistem Kawasan Industri Jawa Tengah. Sebut saja 109 perusahaan di KEK Kendal dan 48 perusahaan di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. Selain itu, puluhan perusahaan lainnya tersebar di Semarang, Demak, hingga kawasan BSB.

BPS berkomitmen melakukan pendataan rutin setiap triwulan. Langkah ini penting untuk memantau perkembangan ekonomi daerah secara berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, Ali juga menyinggung agenda penting Sensus Ekonomi 2026.

Kegiatan pendataan besar ini akan berlangsung pada Mei hingga Juli mendatang. Sensus Ekonomi 2026 bertujuan memotret daya saing usaha secara menyeluruh. Selain itu, sensus ini akan memetakan ekonomi hijau dan perkembangan UMKM.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyambut positif laporan strategis tersebut. Ia selama ini vokal mendorong kepala daerah untuk membuka kawasan industri baru. Daerah potensial meliputi Cilacap, Kebumen, Banyumas, hingga Rembang.

Luthfi menilai keberadaan kawasan industri akan memudahkan masuknya modal asing maupun domestik. “Potensinya besar dan banyak yang harus dikerjakan,” tegas Luthfi merespons data tersebut.

Menutup pertemuan, Gubernur memastikan jajarannya mendukung penuh pelaksanaan sensus. Ia akan menginstruksikan bupati dan wali kota agar kooperatif. Data yang akurat sangat pemerintah butuhkan untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang tepat sasaran.

Baca lagi.

Anti-Mafia! Ahmad Luthfi Jamin Harga Pangan Jateng Aman