Melestarikan Aksara Arab Pegon yang Hampir Punah

Banggasemarang.id — Umumnya aksara pegon merupakan salah satu budaya yang dilakukan Pondok Pesantren dalam pembelajarannya. Dimana santri mengartikan kitab kuning dengan huruf pegon. Sehingga arab pegon termasuk produk warisan budaya Indonesia. Hal ini sebagai warga masyarakat Indonesia khususnya santri perlu untuk melestarikan.

Sampai saat ini Keberadaan Penggunaan Arab pegon masih tetap dipertahankan dan dilestarikan oleh pondok pesantren, TPA, madrasah diniyyah, dan sebagainya yang masih kuat kultur masyarakatnya. Karena masih dianggap banyak membawa keberhasilan dalam segi pendidikan bahasa Arab. Namun, eksistensi Arab Pegon sekarang memprihatinkan karena di pesantren atau madrasah penulisan arab pegon tidak ada lagi sebuah keharusan. Tetapi penggunaan arab pegon terbatas pada kebutuhan santri seperti memaknai kitab kuning.

Selama beberapa tahun, pelajaran gramatikal Arab di Pesantren seperti nahwu, sharaf, dan balaghah lebih mendalam dibandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa Jawa sebagai bahasa lokal. Hal ini karena untuk memberi makna dan arti, santri dilarang keras menggunakan aksara latin. Akan tetapi, mereka harus menggunakan aksara Arab yang disebut Arab pegon tadi.

Pegon berasal dari kata Jawa “pego” bermakna ‘ora lumrah anggone ngucapake’ artinya tidak biasa mengucapkan. Arab pegon merupakan tatanan huruf Arab yang dibaca dengan pelafalan menurut sistem huruf Jawa. Mengutip dari salah satu sumber bahwa Arab pegon juga digunakan dalam bidang sastra Jawa. Hal itu dapat teridentifikasi melalui bahasa Jawa yang digunakan dalam memaknai gandul, yaitu bahasa Jawa klasik.

Dilihat dari beberapa pandangan ada yang menganggap penggunaan arab pegon tidak relevan diantaranya karena :

  1. Bahasa Bertele-tele. Metode Arab pegon di pandang dari masa sekarang banyak yang mengatakan terlalu bertele-tele dalam segi pengungkapannya. bahasa yang seharusnya simpel, akan tetapi ketika diartikan dalam menggunakan Arab pegon malah menjadi panjang. Tak hanya itu, Santri atau pelajar kurang bisa menangkap secara baik dengan penggunaan arab pegon ini. Apalagi ketika santri tersebut berasal dari luar Jawa atau luar daerah yang cenderung pemahaman bahasanya berbeda.
  2. Kurang Efisien dalam Pemanfaatan Waktu. Dari sini akan muncul proses lambatnya kemampuan dan kurang bisa menghemat waktu. Karna pelajar yang mestinya dalam masa 1 tahun sudah bisa memahami. Namun, dalam batasan tertentu terhambat karena kurang memahami bahasa Arab pegon. proses pengajaran kitab kuning ala pesantren salaf cenderung memaknai satu-persatu teks Arab dengan menggunakan Arab pegon, dilanjut dengan menerangkan kandungan makna teks Arab. (Fauzi, 2021)

Namun, tidak dipungkiri bahwa Arab pegon juga memiliki keistimewaan sendiri. Keistimewaan dari Arab pegon diantaranya adalah simbol masyarakat Islam. Hal ini karena arab pegon sudah ada sejak masuknya Islam ke Indonesia sehingga dijadikan sebagai simbol masyarakat Islam. Arab pegon juga termasuk simbol budaya dan simbol identitas sosial.

Huruf Arab Pegon merupakan huruf arab yang telah mengalami transliterasi dan diberi tanda tertentu, yang digunakan di pesantren untuk memaknai kitab kuning dengan metode bandongan. Sampai-sampai orang yang asli Arab sendiri tidak bisa membaca aksara pegon, meskipun sama-sama dengan huruf Arab. Alasan inilah yang menjadikan arab pegon sebagai simbol budaya dan identitas sosial.

Berdasarkan hal itu, kita dapat melestarikan arab pegon dengan mengkaji lebih dalam mengenai arab pegon tersebut. Berikut beberapa upaya dalam melestarikan arab pegon dengan sedikit penjelasan diantaranya :

  1. Mengetahui Sejarah Arab Pegon.

Menurut suatu catatan, huruf Arab Pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh Sunan Ampel di Pesantren Ampel Denta Surabaya. Menurut pendapat lain, penggagas huruf Arab Pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Ada juga yang mengatakan bahwa huruf Arab Pegon ini ditemukan oleh Imam Nawawi Banten.

Akan tetapi mayoritas santri dan kiai menyepakati bahwa aksara pegon mulai ada sejak era Wali Songo, Sunan Ampel Surabaya. Dari Ampel kemudian mulai menyebar ke seluruh Nusantara dengan dialek, pelafalan dan tata cara penulisan yang disesuaikan dengan daerah setempat. (Yudi, 2022)

  • Mengetahui Fungsi dan Tujuan Arab pegon

Dalam dunia pesantren arab pegon Memiliki fungsi dan tujuan sebagai berikut : pertama, sebagai media menulis teks keagamaan dan menerjemahkan kitab kuning. Kedua, untuk membantu para santri dan siswa dalam menghafalkan mufradat atau kosakata bahasa Arab dalam bentuk syi’ir. Ketiga, media untuk mempelajari tata bahasa Arab yang meliputi nahwu, sharaf, dan balaghah.

  • Mengetahui Abjad Huruf Arab pegon

Berikut adalah abjad huruf Pegon yang dinukil dari buku Akulturasi Islam dalam Budaya Jawa karya Marsono yaitu :

  • ا = ʾalif
  • ب = bāʾ
  • ت = tāʾ
  • ث = ṡaʾ
  • ج = jīm
  • چ = ca
  • ح = ha
  • خ = kha
  • د = dal
  • ذ = zal
  • ڎ = dha
  • ر = ra
  • ز = za
  • س = sin
  • ش = syin
  • ص = sad
  • ض = dha
  • ط = ta
  • ڟ = tha
  • ظ = za
  • ع = ain’
  • غ = gain
  • ڠ = nga
  • ف = fa
  • ڤ = pa
  • ق = qaf
  • ك = kaf
  • ڮ = gaf
  • ل =lam
  • م = mim
  • ن = nun
  • ۑ = nya
  • و = wau
  • ھ = ha
  • ي = ya

Oleh karena itu, sebagai santri dan masyarakat yang cinta akan budaya kita harus melestarikan penggunaan arab pegon. Hal ini dilakukan agar tidak kehilangan akar bahasa daerah yang bernuansa Islam.

Jika tradisi Arab Pegon ini terlupakan, maka orang Islam di Indonesia ini telah lupa akan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Telah banyak diisukan bahwa arab pegon akan mengalami digitalisasi agar dokumentasi tidak hilang. Sebagai wujud kepedulian kita terhadap warisan budaya berharap semoga rencana tersebut segera terealisasi.

Penulis: Siti Salamah (Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan)