SEMARANG, Banggasemarang.id – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Setya Arinugroho, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi fenomena La Nina bukan sekadar urusan teknis pemerintah, melainkan upaya kemanusiaan untuk melindungi penghidupan warga yang kian terancam cuaca ekstrem.
Berdasarkan data BMKG dengan indeks Nino 3,4 di angka -0,77, ancaman banjir dan longsor kini mengintai wilayah pegunungan tengah hingga pesisir seperti Grobogan dan Demak, sehingga diperlukan kolaborasi aktif masyarakat sebagai garda terdepan mitigasi.
“Kita tidak bisa lagi memandang bencana hanya sebagai fenomena alam semata. Ini soal tata kelola, kesiapan sosial, serta kemampuan kita beradaptasi dan berkolaborasi,” ujar Setya Ari di Semarang, Kamis (5/3/2026).
Ia menyoroti dampak nyata di lapangan, di mana banjir bukan sekadar angka kerugian materi, melainkan trauma sosial bagi ribuan keluarga.
Di Grobogan dan Demak, puluhan ribu jiwa terdampak, lahan pertanian puso, dan akses pendidikan terputus.

“Bayangkan, petani gagal panen, pedagang kehilangan stok, dan anak-anak sulit bersekolah. Ini bukan hanya kerusakan fisik, tapi kerugian sosial yang merembet ke banyak sektor,” lanjutnya dengan nada simpatik.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kini mempercepat langkah preventif, mulai dari pembangunan tanggul laut terpadu di Pantura hingga pemasangan sensor longsor real-time di kawasan pegunungan.
Namun, Setya menekankan bahwa paradigma harus berubah dari sekadar tanggap darurat menjadi pencegahan dini yang efisien.
Salah satu pilar utamanya adalah pembentukan 140 Desa Tangguh Bencana (Destana). Program ini bertujuan membekali warga dengan budaya waspada, bukan hanya mengandalkan bantuan yang datang kemudian.
“Kesiapsiagaan bukan soal alat canggih, tapi soal budaya. Jika masyarakat terbiasa waspada dan saling bantu, dampak bencana bisa ditekan jauh lebih efektif,”tegas Setya.
Menutup keterangannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk disiplin menyaring informasi dari BMKG dan BPBD guna menghindari kepanikan akibat hoaks.
Menurutnya, gotong royong adalah benteng terakhir Jawa Tengah dalam menghadapi anomali iklim global.
“Kewaspadaan bukan sekadar instruksi pemerintah, tapi tanggung jawab moral bersama. Melindungi sesama berarti menjaga Jawa Tengah tetap tangguh,” pungkasnya.












