Jejak H. Mutahar di Kampung Kinimalang: Kisah Penyelamat Bendera Pusaka, Bapak Paskibraka, dan Lahirnya Nasionalisme Semarang

Kawasan pesisir Semarang—termasuk pesisir Jalan Petek dan sekitarnya—telah lama menjadi inkubator pergerakan kemerdekaan.

Kolase potret pahlawan nasional H Mutahar dan bangunan rumah peninggalannya di Kampung Kinimalang Semarang.
Potret H. Mutahar (kiri) bersanding dengan kondisi rumah peninggalannya di kawasan Kampung Kinimalang, Jalan Petek, Semarang Utara. Bangunan ini menjadi saksi bisu masa kecil sang maestro pencipta lagu "Syukur" sekaligus Bapak Paskibraka Nasional. (Foto: Dok Bangga Semarang)

SEMARANG, Banggasemarang.id — Sejarah besar kemerdekaan Republik Indonesia ternyata berakar kuat dari sebuah sudut pemukiman di Kampung Kinimalang, Jalan Petek, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Di kawasan inilah lahir tokoh bangsa pelopor Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dan penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih, Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad Al Mutahar, atau yang abadi disapa H. Mutahar.

Keponakan H. Mutahar, M. Assegaf, mengungkapkan pamannya memiliki jejak perjuangan militer dan pemerintahan yang sangat krusial pada masa awal republik berdiri.

“Awalnya Paman adalah seorang tentara, namun tidak sampai selesai, beliau menciptakan beberapa lagu dan juga pencetus Paskibraka. Beliau adalah Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI, ajudan Presiden Soekarno dengan pangkat Mayor A.D, dan menjadi penyelamat pusaka Sang Saka Merah Putih saat terjadi Agresi Militer Belanda II 1948,” ujar Assegaf dalam wawancara beberapa waktu lalu.

Peran pria kelahiran 5 Agustus 1916 ini dalam pembentukan Paskibraka sangat monumental.

Sebagai ajudan Presiden, ia ditugasi menyusun upacara pengibaran bendera pada HUT pertama kemerdekaan RI 17 Agustus 1946. Selanjutnya pada 1967, Presiden Soeharto memintanya menyusun tata cara pengibaran.

Kak Mut kemudian merumuskan formasi tiga kelompok: kelompok 17 (pemandu), kelompok 8 (inti), dan kelompok 45 (pengawal), yang menyimbolkan tanggal proklamasi.

Keberadaan H. Mutahar sebagai putra kelahiran Semarang Utara ini menjadi bukti nyata leburnya asimilasi budaya Arab dan napas keindonesiaan.

Salah satu warga di kawasan tersebut, Naiev Zulkarnain Hassan, mengamini bahwa kawasan pesisir Semarang—termasuk pesisir Jalan Petek dan sekitarnya—telah lama menjadi inkubator pergerakan kemerdekaan.

“Sistem pergerakan mengawal pergerakan kemerdekaan Indonesia juga dimulai dari sini,”ungkap Naiev.

Naiev menegaskan kebanggaannya atas sumbangsih putra asli daerah tersebut bagi identitas bangsa.

“Karena kita bisa ingat bahwa salah satu keturunan Arab-Indonesia yang menciptakan lagu kemerdekaan Indonesia, yang juga menciptakan lagu Syukur, menjadi pencetus Paskibraka, serta pencetus Pramuka, itu dilahirkan di Kota Semarang,” tuturnya dengan bangga.

Potret M Assegaf, keponakan pahlawan nasional H Mutahar saat memberikan keterangan wawancara sejarah.
M. Assegaf, keponakan kandung H. Mutahar sekaligus mantan Dosen Fakultas Ekonomi Unissula Semarang. Ia banyak membagikan kisah perjuangan pamannya, mulai dari masa menjadi ajudan Presiden Soekarno hingga perannya sebagai tokoh perintis Pramuka. (Foto: Dok. Bangga Semarang)

Kiprah Kak Mut di luar militer juga tak kalah gemilang. Mantan Dosen Fakultas Ekonomi Unissula Semarang, M. Assegaf, menambahkan bahwa pamannya adalah figur utama berdirinya Pramuka.

“Beliau adalah tokoh utama Kepanduan, salah satu tokoh penting pendiri Pramuka. Saat proses peleburan seluruh gerakan kepanduan di Indonesia menjadi Pramuka, beliau terlibat aktif dalam upaya membangun konsep dan lahir lagu Hymne Pramuka,”kata Assegaf.

Terlahir dari keluarga Arab-Indonesia yang mapan, H. Mutahar mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (1946-1947).

Menguasai setidaknya enam bahasa asing, kariernya memuncak saat diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Takhta Suci Vatikan (1969-1973), dan Pejabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri (1974).

Di sela kesibukannya, ia mencipta karya abadi seperti hymne “Syukur” (1945), mars “Hari Merdeka” (1946), hingga “Dirgahayu Indonesiaku”.

Sang maestro akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada 9 Juni 2004 di usia 87 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Jeruk Purut.

Jejak H. Mutahar membuktikan bahwa Kampung Kinimalang bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan rahim bagi lahirnya pahlawan besar yang merajut identitas bangsa ini.