Di balik bisingnya kawasan industri Mangkang, Candi Tugu Semarang menyimpan rahasia besar sebagai titik temu Kerajaan Majapahit dan Pajajaran yang kini nyaris terlupakan. Waktu seolah terbelah dua di kawasan Tugu ini. Perbedaan suasana terasa begitu mencolok dan menghentak kesadaran siapa pun yang berkunjung.
Di kaki bukit, cerobong pabrik terus mengepulkan asap hitam ke udara. Deru truk kontainer di Jalan Raya Mangkang tak henti memuntahkan napas industri yang bising, bergegas, dan penuh polusi. Namun, cobalah mendaki sedikit ke atas melalui jalan setapak yang rimbun. Dunia tiba-tiba berubah menjadi senyap.
Di sana, di bawah naungan pohon kamboja tua, sebuah monumen batu berdiri sendirian. Ia tidak menjulang megah menantang langit layaknya candi-candi populer lainnya. Bangunan ini justru menatap pasrah ke arah Laut Jawa yang membentang luas.
Inilah Candi Tugu Semarang, atau warga lokal lebih akrab menyebutnya sebagai Watu Tugu. Situs ini diklaim sebagai tapal batas dua kerajaan besar Nusantara di masa lampau. Namun ironisnya, ia kini menjadi “orang asing” di tanahnya sendiri.
Keberadaan situs ini tidak lepas dari sosok penjaga setianya. Sumarto Juru Kunci Candi Tugu adalah sang penjaga ingatan yang tak kenal lelah. Pria paruh baya ini menghafal setiap lekuk batu di situs ini sefasih ia menghafal doa sehari-hari.
Selama 16 tahun, Sumarto mendedikasikan hidupnya menjaga warisan leluhur ini. Situs ini memang sering kali luput dari peta wisata populer Jawa Tengah. Meski demikian, semangat Sumarto tak pernah surut sedikit pun.
Tangannya yang mulai keriput menunjuk ke arah tugu utama. Itu adalah sebuah struktur batu andesit yang tampak sangat purba. Ia buru-buru menjelaskan perbedaan batu itu dengan bangunan lain di sebelahnya. Bangunan tetangganya terlihat lebih utuh, namun sebenarnya berusia lebih muda.
“Banyak yang salah kira,” ujarnya lirih. Matanya menerawang menembus kabut tipis yang menyelimuti bukit pagi itu. Ada kekecewaan yang tersirat dari nada bicaranya saat menceritakan perilaku pengunjung.
Menurutnya, banyak orang datang hanya untuk berfoto di candi buatan tahun 80-an. Mereka tertarik karena bentuknya mirip Gedong Songo. Padahal, ‘nyawa’ dan Misteri Candi Tugu Semarang yang asli justru ada di tugu batu tak berbentuk itu.
Bagi Sumarto, meluruskan sejarah bukan sekadar tugas administratif semata. Hal ini telah menjadi obsesi pribadinya. Ia ingin generasi muda memahami nilai sejarah yang terkandung di tanah kelahiran mereka.
Ia lantas mengutip catatan J. Knebel, seorang peneliti purbakala Hindia Belanda. Peneliti tersebut pernah menjejakkan kaki di sana pada tahun 1911. Catatan itu menjadi pegangan kuat bagi Sumarto dalam menuturkan kisah.
Dalam ingatan kolektif yang dijaga Sumarto, situs ini menyimpan teka-teki linimasa yang memikat. Situs ini diklaim berasal dari era Mataram Kuno pada abad ke-8. Namun, fungsinya sangat vital ratusan tahun kemudian.
Tempat ini diyakini sebagai batas wilayah Kerajaan Majapahit dan Pajajaran. “Ini lebih tua dari Borobudur,” tegas Sumarto. Suaranya meninggi, mencoba mengalahkan deru angin bukit yang kencang.
“Dulu, di sinilah titik temu peradaban,” lanjutnya penuh semangat. Pajajaran berada di sisi barat atau wilayah Kaliwungu. Sementara itu, Majapahit menguasai sisi timur atau wilayah Ungaran.
Batu andesit ini adalah saksi bisu perdamaian mereka. Ia menjadi penanda batas yang dihormati oleh kedua kerajaan besar tersebut. Sayangnya, narasi megah masa lalu itu kini berbenturan keras dengan realitas masa kini.
Candi Tugu Semarang adalah potret buram pengelolaan cagar budaya di era modern. Kondisinya bisa dibilang “hidup segan, mati tak mau”. Kurangnya perhatian membuat situs ini merana di tengah kepungan beton industri.
Nasib situs ini sempat berada di ujung tanduk. Sejak Sumarto pensiun resmi pada 2016 karena faktor usia, situs ini sempat mati suri. Tidak ada juru kunci pengganti yang ditunjuk untuk meneruskan tugasnya.
Lebih parah lagi, tidak ada anggaran pemeliharaan rutin yang turun. Rumput liar setinggi lutut sempat merambati pagar pembatas. Alam seolah hendak merebut kembali apa yang menjadi miliknya.
Sumarto tak tega melihat sejarah tertutup ilalang. Panggilan hatinya terlalu kuat untuk mengabaikan kondisi situs yang memprihatinkan itu. Ia pun memutuskan untuk kembali turun tangan.
Ia kemudian menginisiasi Forum Ngupokoro Candi Tugu. Ini adalah sebuah gerakan swadaya masyarakat desa setempat yang peduli pada sejarah. Mereka bergerak tanpa menunggu instruksi atau bantuan dari pihak luar.
Anggota forum ini bekerja dengan sukarela. Mereka menyapu daun kering yang berserakan di halaman situs. Mereka juga rutin mencabuti rumput liar yang tumbuh liar di sela-sela bebatuan.
Tujuannya sederhana, mereka ingin menjaga situs tetap “bernapas”. Meskipun, mereka harus melakukannya tanpa dukungan dana pemerintah yang memadai. Semangat gotong royong menjadi bahan bakar utama gerakan ini.
“Kalau mengharapkan dana turun, situs ini sudah jadi hutan,” kata Sumarto. Nada bicaranya bercampur aduk antara rasa bangga dan getir. Ia bangga pada warganya, namun kecewa pada sistem yang ada.
Bantuan dari kelurahan atau kecamatan hanya datang sesekali. Sifatnya tidak rutin dan jumlahnya pun terbatas. Kalau tidak ada gerakan mandiri, situs ini pasti akan terbengkalai lagi.
“Rasanya prihatin,” tambahnya pelan. “Belum ada yang benar-benar menjaga ini dengan hati.” Kalimat itu menyiratkan harapan agar ada perhatian lebih serius dari para pemangku kebijakan.
Matahari mulai meninggi di langit Semarang Barat. Sinarnya menerpa wajah tua Sumarto dan permukaan batu candi yang kasar. Pemandangan dari puncak bukit itu menyajikan ironi yang indah sekaligus menyedihkan.
Garis pantai Laut Jawa terlihat berkilauan di kejauhan. Pemandangan alam itu sangat kontras dengan atap-atap seng pabrik yang mengepung kaki bukit. Industri terus mendesak, mempersempit ruang napas sejarah.
Namun, Candi Tugu Semarang masih berdiri tegak di sana. Ia tetap membisu menyaksikan perubahan zaman. Ia telah bertahan melewati runtuhnya kerajaan-kerajaan besar Nusantara.
Ia juga selamat dari masa kolonialisme yang panjang. Kini, ia harus menghadapi ancaman yang lebih senyap namun mematikan. Ancaman itu bernama ketidakpedulian dan arogansi zaman modern.
Sumarto menyulut rokok kreteknya untuk mengusir dingin. Ia mengembuskan asap putih ke udara, berbaur dengan polusi pabrik. Ia merenungi nasibnya dan batu yang dijaganya itu.
Mereka memiliki nasib yang serupa. Keduanya sudah tua, lelah, dan terpinggirkan. Namun, keduanya sama-sama menolak untuk pergi dan menyerah pada keadaan.
Melalui Forum Ngupokoro Candi Tugu, harapan itu masih menyala. Sumarto hanya berharap satu hal sebelum menutup mata. Ia ingin sejarah besar tentang batas Majapahit dan Pajajaran itu tidak lenyap begitu saja.
Jangan sampai kisah damai dua kerajaan itu tertelan debu industri. Debu itu kian hari kian tebal menyelimuti kota, namun tidak boleh menutupi ingatan kita. Candi Tugu Semarang harus tetap ada, sebagai pengingat bahwa kita pernah menjadi bangsa yang besar.
Baca lagi.
Bencana Alam Brebes: Ahmad Luthfi Kirim Mobil Spesialis Keliling




