Sulap Lahan Nganggur Pakai Drone, DPRD Dorong ‘Revola’ Jateng Entaskan Kemiskinan

Setya menilai, kekuatan ekonomi kerakyatan dari sentra produksi pangan akan memberikan dampak maksimal jika diintegrasikan langsung dengan optimalisasi lahan.

Setya Arinugroho tinjau lahan pertanian terpadu program Revola di Banjarnegara
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho, saat meninjau peresmian program percontohan Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis di Desa Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Senin (10/8). Lahan percontohan ini dikelola oleh petani muda menggunakan teknologi modern. (Foto: Dok. DPRD Jateng)

BANJARNEGARA, Banggasemarang.id – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Arinugroho, mendorong perluasan program Revolusi Lahan (Revola) ke 35 kabupaten/kota di Jateng sebagai langkah strategis mempercepat pengentasan kemiskinan.

Program yang menyulap 10 hektare lahan kosong menjadi kawasan pertanian terpadu berteknologi drone ini diresmikan di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Senin (10/8).

Setya menilai, kekuatan ekonomi kerakyatan dari sentra produksi pangan akan memberikan dampak maksimal jika diintegrasikan langsung dengan optimalisasi lahan.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Jateng merupakan produsen padi terbesar kedua nasional dengan produksi 8,89 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), disusul sektor peternakan yang mampu menyerap lebih dari 800 ribu tenaga kerja.

“Alhamdulillah kami dari DPRD bisa mempersamai Pak Gubernur untuk menghadiri peresmian Revolusi Lahan di Kabupaten Banjarnegara. Ada beberapa hal yang mungkin perlu nanti kita dorong agar bisa diduplikasi di seluruh Kabupaten/Kota yang ada di Jawa Tengah,” tegas Setya usai peresmian tersebut.

Ia menjelaskan, pengubahan lahan tidak produktif menjadi kawasan terpadu adalah jalan keluar nyata untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus melipatgandakan pendapatan masyarakat. Di Desa Susukan, lahan percontohan tersebut kini ditanami kopi, alpukat, padi, dan tanaman hortikultura yang diintegrasikan dengan peternakan ayam, kambing, serta perikanan.

“Karena ini adalah integrasi antara pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan. Kita harapkan dengan adanya pola-pola seperti ini dapat menjadi langkah percepatan penanganan dan pengurangan kemiskinan,” ungkapnya.

Menariknya, pengelolaan kawasan percontohan ini diserahkan sepenuhnya kepada petani muda yang mengadaptasi teknologi pertanian modern.

Penggunaan pesawat tanpa awak (drone) untuk pemantauan dan mesin penyiram otomatis terbukti membuat sistem kerja jauh lebih cepat serta hemat tenaga.

“Keterlibatan generasi muda dengan dukungan teknologi membuktikan bahwa sektor pertanian bisa dikelola dengan cara yang lebih maju. Ini sekaligus menjadi solusi untuk menekan angka pengangguran di desa,” tambah Setya.

Ke depan, Setya berharap keberhasilan pemanfaatan lahan nganggur di Banjarnegara ini dapat segera direplikasi di seluruh wilayah Jawa Tengah secara merata.

“Jika seluruh daerah bisa memanfaatkan lahan kosong mereka seperti di Banjarnegara, kita akan memiliki ketahanan pangan yang kuat di Jawa Tengah. Harapannya, kesejahteraan masyarakat desa juga akan semakin merata,” pungkasnya.