Uniknya Upacara HUT Ke-81 RI di Kampung Puntan: Petugas Perempuan hingga Kostum Daur Ulang Plastik

Pemilihan ini menyimbolkan bahwa perempuan merupakan soko guru peradaban bangsa yang mampu mengambil peran di ruang publik dengan aman, nyaman, dan penuh wibawa.

Warga Kampung Puntan Gunungpati mengenakan pakaian adat dari daur ulang sampah plastik saat mengikuti upacara HUT ke-81 RI.
Warga "Kampung Gang Presiden" Puntan, Kelurahan Ngijo, Gunungpati, tampil memukau dengan kostum adat Nusantara hasil daur ulang limbah plastik pada upacara peringatan HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026).

SEMARANG, Banggasemarang.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di “Kampung Gang Presiden” Puntan, Kelurahan Ngijo, Gunungpati, pada Senin (17/8/2026) pagi berlangsung meriah dan unik.

Upacara kemerdekaan ini tampil berbeda karena seluruh petugas intinya adalah perempuan, serta diwarnai aksi warga yang mengenakan kostum Nusantara dari hasil daur ulang limbah plastik.

Momentum perayaan ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga disulap menjadi panggung kebhinekaan sekaligus kampanye lingkungan. Perhatian utama tertuju pada jajaran petugas upacara. Mulai dari pembawa acara, pasukan pengibar bendera, hingga pembaca UUD 1945, seluruhnya dipercayakan kepada ibu-ibu dan remaja putri Kampung Puntan.

Pemilihan ini menyimbolkan bahwa perempuan merupakan soko guru peradaban bangsa yang mampu mengambil peran di ruang publik dengan aman, nyaman, dan penuh wibawa.

Selain itu, tingginya partisipasi warga juga terlihat dari balutan pakaian adat Nusantara dan seragam profesi. Lebih menarik lagi, sejumlah warga menampilkan kreativitas tingkat tinggi dengan menyulap limbah plastik menjadi busana yang memukau.

Emma Apriliana, warga RT 03/RW 01, berhasil mendaur ulang bubble wrap (plastik gelembung) bekas pembungkus paket belanja online menjadi gaun luar (outer) dan rok pakaian adat Kalimantan. Ia mengaku, ide tersebut berawal dari keprihatinannya terhadap tumpukan sampah plastik di sekitarnya.

“Ini kan ada bekas bubble wrap banyak di rumah, biasanya buat bungkus paket belanja online. Daripada dibuang, saya kumpulkan, kemudian saya jahit sendiri. Saya eksplorasi dan buat kostum 17-an,” kata Emma.

Emma menambahkan, hasil karyanya yang terinspirasi dari media sosial tersebut bahkan sudah menarik minat warga kampung lain untuk disewa. “Alhamdulillah sudah ada yang pesan sewa kostum saya, gara-gara saya unggah di status WhatsApp,” ungkapnya.

Hal serupa dilakukan Ratna Wardani, warga RT 02/RW 01. Ia memanfaatkan tumpukan limbah plastik bekas kemasan deterjen menjadi kostum upacara yang nyentrik dan menarik.

“Daripada bungkus deterjennya dibuang, lebih baik dimanfaatkan untuk kostum 17-an, siapa tahu bisa jadi inspirasi banyak orang. Ini saya butuh waktu seminggu untuk menyelesaikannya,” jelas Ratna.

Bertindak selaku Pembina Upacara, tokoh masyarakat Puntan, Waimin, S.Pd., menegaskan bahwa tema besar kegiatan ini adalah Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, kerukunan adalah fondasi utama yang membuat masyarakat Puntan tetap berdiri kokoh.

“Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan dengan banyak hal, salah satunya menjaga guyub rukun antarwarga, bergotong royong, dan memberikan kontribusi positif untuk masyarakat,” terang Waimin.

Waimin juga menyoroti penggunaan kostum profesi sebagai pesan tersirat bagi warga. “Di usia kemerdekaan ke-81 ini, masyarakat tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus terus berkontribusi melalui profesinya masing-masing,” imbuhnya.

Kegiatan ini mendapat apresiasi penuh dari warga setempat. Suharsulasmono, yang tampil gagah dengan pakaian beskap adat Jawa, berharap kegiatan tersebut membawa dampak positif yang luas.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Saya berharap cerminan upacara hari ini dapat menjadi pemantik semangat persatuan, tidak hanya bagi warga di sini, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara luas,” ujar Suhar.

Ketua RT 02, Santoso, beserta Ketua RT 03, Puji Riyanto, mengaku haru dan bangga melihat kekompakan warganya. “Saya sangat bangga dan senang warga Puntan kompak. Agenda positif seperti ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” tutur Santoso.

“Ini membuktikan bahwa di tengah berbagai dinamika kehidupan, warga Puntan bisa bersatu dan sukses melaksanakan agenda bersama-sama. Ini adalah wujud guyub rukun yang sesungguhnya,” pungkas Puji.

Sebagai informasi, wilayah RT 02 dan RT 03 di RW 01 Kampung Puntan ini memang memiliki ciri khas tersendiri. Kampung ini dikenal menyematkan nama-nama Presiden RI sebagai nama gang, mulai dari Gang Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, SBY, hingga Jokowi. Menurut warga, hal ini merupakan wujud kecintaan kepada pemimpin bangsa sekaligus harapan agar para pemimpin negeri selalu memberikan teladan dan kinerja terbaik bagi rakyat.