SEMARANG, Banggasemarang.id – Banjir Kanal Barat (BKB) di Semarang kini bersolek menjadi ruang publik memukau yang kerap dijuluki “Venesia-nya Indonesia”.
Kawasan yang beroperasi sejak 23 Januari 1879 sebagai proyek hidrologi raksasa untuk menyelamatkan jantung ekonomi kolonial Hindia Belanda dari banjir, kini bertransformasi menjadi destinasi wisata malam yang romantis berkat revitalisasi menyeluruh oleh Pemerintah Kota Semarang dan Kementerian PUPR.
Perubahan wajah BKB berawal dari sejarah panjang yang lahir dari keputusasaan.
Pada pertengahan abad ke-19, kawasan “Little Netherland” (Kota Lama) yang dipenuhi gudang rempah perlahan tenggelam akibat rob dan banjir bandang hulu Kali Semarang. Solusi radikal akhirnya dieksekusi dengan menyodet pertemuan Sungai Kaligarang, Sungai Kreo, dan Sungai Gribik, lalu mengalirkan airnya ke kanal buatan lurus menuju Laut Jawa.
Infrastruktur ini sukses melindungi Semarang selama puluhan tahun. Namun, pada akhir abad ke-20, kawasan BKB sempat mengalami mati suri.
Erosi hulu akibat alih fungsi lahan mendangkalkan sungai, sementara permukiman kumuh menyerbu bantaran. BKB sempat menjadi kawasan gelap yang rawan kejahatan.
Penyelamatan besar-besaran dilakukan pada era 2010-an dengan sokongan dana Japan International Cooperation Agency (JICA). Jutaan kubik lumpur dikeruk, permukiman ditertibkan, dan bantaran kanal disulap menjadi amfiteater beton, taman bersinar hangat, serta jalur pedestrian lebar berlapis paving.
Kini, setiap malam, warga menikmati suasana sungai tenang yang memantulkan gemerlap cahaya kota.
Puncak revitalisasi ini dirayakan secara rutin sejak 2018 melalui Festival Banjir Kanal Barat yang menghadirkan parade perahu hias dan ribuan lampion, menegaskan status BKB bukan sekadar gorong-gorong raksasa, melainkan jantung baru ruang sosial warga Semarang.








