SEMARANG, Banggasemarang.id – Masyarakat Kota Semarang menyambut bulan suci Ramadan melalui tradisi Dugderan yang menghadirkan maskot ikonik, Warak Ngendog. Bukan sekadar hiburan rakyat sejak 1881, sosok hewan imajiner ini merangkum pesan toleransi tiga budaya sekaligus filosofi pengendalian diri bagi umat Islam.
Wujud Warak Ngendog memadukan unsur budaya Tionghoa, Arab, dan Jawa yang hidup berdampingan di Semarang. Bagian kepalanya menyerupai naga khas budaya Tionghoa, tubuhnya mengadaptasi unta atau Buraq dari tradisi Arab-Islam, sedangkan keempat kakinya menyerupai kambing yang lekat dengan budaya Jawa. Akulturasi visual ini menjadi simbol kerukunan masyarakat multikultural yang membentuk identitas Kota Semarang.
Selain wujud akulturasi, penamaan Warak Ngendog menyimpan pesan spiritual yang erat dengan ibadah puasa. Kata warak berasal dari istilah Arab wara’, yang berarti sikap menjaga diri dari dosa dan mengendalikan hawa nafsu. Adapun ngendog berasal dari bahasa Jawa yang berarti bertelur.
Perpaduan dua kata tersebut menyiratkan makna bahwa siapa pun yang mampu menjaga diri dan beribadah dengan baik selama Ramadan akan meraih hasil berupa pahala. Keberadaan telur pada simbol Warak Ngendog turut melambangkan buah kebaikan dari perjuangan menjalankan ibadah.
Fakta unik lainnya terletak pada konstruksi fisik Warak Ngendog yang secara tradisional dibuat lurus dan bersudut tegas. Bentuk geometris tanpa lekukan rumit ini merepresentasikan karakter masyarakat Semarang yang terbuka, jujur, dan lugas atau tidak suka berbelit-belit.
Kehadiran Warak Ngendog tidak terpisahkan dari kemeriahan Dugderan yang telah mengakar di Semarang sejak 1881. Nama Dugderan diambil dari perpaduan bunyi beduk (“dug”) dan dentuman meriam (“der”) sebagai penanda masuknya bulan suci. Sejak awal kemunculannya, tradisi ini berfungsi sebagai sarana pemersatu masyarakat di tengah perbedaan penentuan awal Ramadan.


