Mengapa Warga Semarang Suka Menambahkan Kata “Ik” dan “Ok”? Ini Penjelasannya

Mengenal keunikan bahasa Semarangan, mulai dari partikel penegas ik dan ok, etika sapaan ndes dan lur, hingga daftar 50 kosakata harian bagi pendatang.

Sekelompok anak muda duduk mengelilingi meja kayu, tertawa dan berbincang akrab di warung luar ruangan kawasan Kota Lama Semarang, berlatar belakang Gereja Blenduk yang ikonik pada sore hari.
Akrab dan hangat, sekelompok anak muda tampak asyik mengobrol santai sambil menikmati kuliner di kawasan Kota Lama, Semarang. Interaksi keseharian warga di ibu kota Jawa Tengah ini kaya akan dialek dan kosakata khas Semarangan yang menjadi identitas komunikasi mereka. (Foto: Ilustrasi AI)

SEMARANG, Banggasemarang.id – Masyarakat Kota Semarang dan kawasan Kedungsepur memiliki dialek bahasa Jawa khas bercorak budaya pesisir yang kerap membingungkan para pendatang dalam percakapan sehari-hari.

Berbeda dengan dialek Surakarta atau Surabaya, bahasa Semarangan melahirkan puluhan istilah unik serta partikel penegas khusus sebagai identitas komunikasi warga lokal.

Secara geografis, dialek ini digunakan secara luas oleh warga di Kota Semarang serta wilayah penyangga sekitarnya (Kedungsepur), meliputi Kota Salatiga, Kabupaten Kendal, Demak, Kabupaten Semarang, hingga wilayah Grobogan bagian barat.

Meski berakar dari bahasa Jawa Mataraman (Surakarta), tuturan warga Semarang dipengaruhi budaya pesisir yang terbuka serta serapan istilah pergaulan generasi muda.

Ciri paling menonjol dalam dialek Semarangan adalah penggunaan kata penegas di akhir kalimat afirmatif, seperti ik, ok, dan to. Sebagai contoh, warga kerap mengucapkan “Lha nopo ik?” (Memangnya kenapa?) atau “Aku wis mangan, ok!” (Aku sudah makan!).

Selain itu, masyarakat setempat lebih sering menggunakan kata “he’eh” dibandingkan “iyo” untuk menyatakan persetujuan, serta ungkapan praktis “rakwis” yang bermakna “sudah saja” atau “tidak usah”, seperti pada kalimat “Mangan we rakwis” (Makan saja sudah).

Dalam pergaulan sosial, warga Semarang memiliki sapaan khas yang perlu dipahami konteksnya oleh pendatang. Sapaan lur—berasal dari kata sedulur (saudara)—serta bolo dan nda memiliki konotasi positif untuk menyapa rekan secara hangat.

Sebaliknya, terdapat sapaan ndes (akronim dari gondes) yang lazim digunakan untuk menyapa teman sebaya yang sudah sangat akrab, misalnya “Ndes, wis mangan durung?” (Sudah makan belum?).

Namun, pendatang perlu berhati-hati karena sapaan ndes kurang elok diucapkan kepada orang yang belum dikenal atau berusia lebih tua.

Keunikan lain tampak pada sebutan orang tua di kalangan anak muda Semarang, yakni sebeh untuk ayah dan semeh untuk ibu. Kata ini sering bersanding dengan ungkapan lhaiske (bukan begitu/nah kan) saat menegur kekeliruan seseorang, contohnya “Lhaiske, ngko kowe diseneni semehmu” (Nah kan, nanti kamu dimarahi ibumu).

Pemahaman terhadap ragam kosakata lokal ini tidak hanya memperkaya wawasan kebahasaan, tetapi juga membantu para pendatang menjalin komunikasi yang lebih cair dan santun dengan masyarakat Semarang.

Untuk memudahkan adaptasi dengan warga lokal, berikut rangkuman kosakata khas Semarangan berdasarkan konteks penggunaannya:

1. Sifat, Sikap, dan Perilaku

  • Kamso: Ketinggalan zaman.
  • Wagu: Aneh, canggung, atau kurang pantas.
  • Ngotek / Ngomyang: Banyak bicara atau berbicara terus-menerus.
  • Nggambus / Gombal mukiyo: Berbohong atau membual.
  • Luweh: Terserah atau masa bodoh.
  • Grak-grek: Banyak tingkah atau berbuat macam-macam.
  • Ingah-ingih: Ragu-ragu atau kurang berani.
  • Mremo: Memanfaatkan kesempatan (aji mumpung).
  • Angger: Asal-asalan.
  • Klumbrak-klumbruk: Bermalas-malasan.

2. Aktivitas dan Gerakan

  • Sat-set: Bergerak cepat dan tangkas.
  • Sak dheg sak nyet: Dilaksanakan seketika itu juga.
  • Nguncluk: Berjalan cepat tanpa memperhatikan sekitar.
  • Ijlak-ijlik: Bolak-balik ke sana kemari.
  • Kesusu: Terburu-buru.
  • Leren: Beristirahat.
  • Ndlosoran: Rebahan atau tiduran di lantai.
  • Keceh: Bermain air.
  • Isah-isah: Mencuci piring.
  • Nyilih: Meminjam.
  • Nyingkir: Menepi atau pergi.
  • Ithik-ithik: Menggelitik.
  • Ngempet: Menahan diri.
  • Ote-ote: Bertelanjang dada (tidak mengenakan baju).
  • Mokah: Membatalkan puasa dengan sengaja.

3. Kondisi Fisik, Rasa, dan Ekspresi

  • Semlenget: Meriang atau badan terasa hangat.
  • Keceklik: Terkilir.
  • Merengut: Cemberut.
  • Gumun: Heran atau takjub.
  • Jan: Kata seru untuk mengungkapkan kekesalan.
  • Badhek: Bau kurang sedap.
  • Nggilani: Menjijikkan.
  • Jeblog: Berlumpur atau merosot (untuk nilai).
  • Nglembreh: Kendur atau tidak kencang.
  • Rungkad: Tercabut hingga ke akarnya (hancur lebur).

4. Kuliner, Benda, dan Keterangan Lain

  • Semego: Menggugah selera makan.
  • Nglawuhi: Cocok dijadikan lauk makan.
  • Nyamikan: Camilan atau kudapan.
  • Congyang: Minuman fermentasi tradisional khas Semarang.
  • Brompit: Sepeda motor.
  • Gacuk: Andalan atau barang kepercayaan.
  • Kenthip: Sangat jauh atau tinggi sekali.
  • Mangke: Nanti.
  • Dhiluk: Sebentar.
  • Jare: Katanya.
  • Jarke: Dibiarkan saja.
  • Jebule: Ternyata.
  • Piye jal: Lalu bagaimana.
  • Muspro: Sia-sia.
  • Eman-eman: Sayang jika terbuang percuma.
  • Kumanan: Mendapat bagian (kebagian).
  • Ngungkuli: Melebihi atau melampaui.