Bukan Mitos Pahlawan, Ini Sejarah Asli ‘Kali Kuping’ Semarang yang Kini Jadi Tempat Hangout Estetik

Simak sejarah asli Kali Kuping di Kampung Kali, Semarang. Bukan berasal dari mitos nama pahlawan, kawasan hangout estetik ini dulunya adalah jalur perniagaan Ko-Peng abad ke-18.

Suasana estetik jalur pedestrian dan sungai di Kampung Kali, Jalan Mayjen Sutoyo, Semarang pada malam hari.
Suasana di kawasan Kampung Kali, Jalan Mayjen Sutoyo, Kota Semarang. Kawasan yang dulunya merupakan jalur perdagangan air bernama Kali Ko-Peng ini kini direvitalisasi menjadi ruang publik estetik dan destinasi favorit anak muda. (Foto: Dok. Pemkot Semarang)

SEMARANG, Banggasemarang.id — Kawasan Kampung Kali di Jalan Mayjen Sutoyo, Kota Semarang, kini bertransformasi menjadi destinasi hangout estetik favorit kalangan milenial dan Gen-Z setelah direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Semarang.

Menariknya, sungai kecil yang membelah kawasan ini sering disebut “Kali Kuping”, yang ternyata bukan berasal dari mitos nama pahlawan lokal, melainkan berasal dari kata “Kali Ko-Peng”, sebuah jalur tol air perniagaan sibuk peninggalan saudagar Tionghoa abad ke-18.

Banyak mitos jalanan yang menyebutkan bahwa nama “Kuping” merujuk pada sosok pahlawan atau saudagar kaya di masa lalu. Namun, merujuk pada buku Riwajat Semarang (1416–1931) karya sejarawan Liem Thian Joe (1933), kawasan ini aslinya bernama Kali Ko-Peng.

Dalam dialek Hokkian, penamaan geografis biasanya merujuk pada ciri fisik atau fungsi lokasi.

Lantaran lidah masyarakat pribumi Jawa kesulitan melafalkan nada dialek Hokkian, kata “Ko-Peng” perlahan meluruh dan lazim diucapkan menjadi “Kuping”. Direktori sejarah Kelurahan Kranggan mencatat perubahan nama ini sebagai penanda peleburan warga multietnis di masa itu.

Pada abad ke-18 dan ke-19, Kali Ko-Peng memiliki dimensi lebih lebar dengan debit air tinggi.

Sungai ini berfungsi sebagai jalur distribusi logistik, di mana perahu-perahu kecil mengangkut beras, rempah, keramik, hingga sutra dari pesisir utara menuju pusat ekonomi Pasar Johar dan Pecinan.

Seiring pesatnya pembangunan jalan darat berlapis aspal pada abad ke-20, fungsi transportasi sungai ini mati suri. Bertahun-tahun lamanya, Kali Kuping sempat merana menjadi saluran pembuangan penuh endapan lumpur dengan bantaran kumuh dan gelap.

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) melakukan intervensi revitalisasi ruang publik secara masif. Sungai tidak sekadar dibeton, tetapi dimanusiakan.

Tepian kali yang dulu tak tertata kini diubah menjadi jalur pedestrian lebar yang ramah pejalan kaki.

Pemasangan kursi taman, penanaman pohon peneduh, serta penataan lampu sorot dekoratif berhasil menghapus kesan rawan kriminalitas sekaligus mempertegas karakter historis kawasan di malam hari.

Kini, Kampung Kali menjadi contoh sukses integrasi sejarah ke dalam gaya hidup urban modern. Warga yang bersantai di deretan kafe kekinian Jalan Mayjen Sutoyo tidak sekadar menikmati pemandangan kota, tetapi juga duduk berdampingan dengan jejak peninggalan urat nadi perniagaan Semarang dari abad yang lalu.