Mengupas Makanan Khas Imlek dan Maknanya Penuh Doa

Sajian lengkap makanan khas Imlek dan maknanya di atas meja perjamuan, menampilkan Ikan Bandeng, Kue Keranjang, dan Yee Sang.
Di balik lezatnya hidangan Imlek, tersimpan doa dan filosofi mendalam. Mulai dari makna Ikan Bandeng Imlek yang melambangkan rezeki, hingga Kue Keranjang perekat persaudaraan.

Pernahkah Anda bertanya mengapa meja makan saat Imlek harus penuh sesak? Di balik riuh rendah keluarga yang berkumpul, tersimpan rahasia makanan khas Imlek dan maknanya.

Dari dapur Nyonya Tan di Semarang, uap panas gula aren menceritakan kisah tentang doa yang dipanjatkan lewat masakan. Aroma manis itu membawa kita menelusuri filosofi mendalam di balik setiap hidangan.

Uap panas mengepul dari dandang tua di dapur Nyonya Tan. Aroma manis gula aren yang telah terkaramelisasi memenuhi ruangan. Di luar, hujan deras mengguyur kota Semarang sebagai pertanda rezeki. Namun, di dalam dapur, tangan keriput Nyonya Tan cekatan mengaduk adonan Kue Keranjang.

“Kalau hati sedang panas, kue ini tidak akan jadi,” gumamnya pelan tanpa menoleh. Inilah inti dari filosofi kue keranjang yang sering terlupakan. Teksturnya yang lengket menyimbolkan persaudaraan yang erat. Proses masaknya yang lama pun mengajarkan kita tentang ketekunan.

Bagi keluarga Tionghoa, momen ini bukan sekadar pergantian kalender lunar. Kami tidak sedang menyantap kalori di meja perjamuan nanti. Kami sejatinya sedang mengunyah doa-doa yang dimasak dengan peluh dan pengharapan.

Ritual makan malam bermula dengan hidangan pembuka yang unik. Piring besar berisi Yee Sang atau salad ikan segar tersaji di tengah meja. Momen ini menuntut pemahaman cara makan Yee Sang yang benar. Seluruh keluarga berdiri mengelilingi meja sambil memegang sumpit.

Aba-aba dimulai, lalu teriakan “Lo Hei!” menggema keras. Kami mengaduk bahan makanan setinggi mungkin hingga berantakan. Semakin tinggi sumpit mengangkat, semakin tinggi pula harapan kita agar cita-cita tercapai. Kekacauan di atas meja ini justru kami anggap sebagai berkah.

Setelah kehebohan mereda, aroma mentega Wijsman mengambil alih suasana. Lapis Legit hadir dengan tampilan mewah yang intimidatif. Kue ini menegaskan bahwa kemakmuran abadi butuh proses panjang. Kita harus menyusunnya selapis demi selapis dengan sabar, bukan lewat keberuntungan semalam.

Pemandangan berbeda tampak pada meja makan Imlek di Nusantara. Seekor Ikan Bandeng raksasa tersaji utuh di antara hidangan lain. Bagi masyarakat Jawa dan Betawi, makna ikan bandeng Imlek sangatlah dalam. Nyonya Tan sering berkata, “Duri itu ujian, daging itu nikmat.”

Kita belajar sabar memilah duri demi mendapatkan daging yang manis. Bandeng juga melambangkan rezeki yang licin dan berlimpah. Penyajian utuh dari kepala hingga ekor menjadi mandat penting. Artinya, kita wajib menyelesaikan segala usaha sampai tuntas.

Di samping ikan, tersaji mie panjang umur atau siu mie. Aturan makannya sangat ketat. Anda dilarang menggigit atau memotong mie tersebut dengan sendok. Kita harus menyeruputnya utuh sebagai doa meminta kesehatan dan umur panjang.

Perjamuan pun berakhir dengan rasa syukur, bukan sekadar kenyang. Aroma segar Jeruk Mandarin menetralisir rasa lemak di lidah. Melalui deretan makanan khas Imlek dan maknanya ini, kita meresapi doa dalam setiap gigitan. Harapan terbaik memang bermula dari meja makan keluarga.

Baca lagi.

Yuk Daftar Mudik Gratis Jateng 2026 via App JNN