Pesona Onthel di Kota Lama Semarang: Menghidupkan Romantisme Masa Lalu di Tengah Era Modern

Melintasi rute ikonis mulai dari Gereja Blenduk, Taman Srigunting, hingga Gedung Marba, aktivitas ini lebih dari sekadar olahraga santai.

Rombongan komunitas sepeda onthel berbaju klasik melintas di depan Gereja Blenduk Kota Lama Semarang.
Anggota komunitas sepeda tua berbusana klasik saat menyusuri kawasan bersejarah Kota Lama Semarang pada akhir pekan. (Foto: Dok. Instagram Temoe Doeloe)

SEMARANG, Banggasemarang.id – Kehadiran barisan sepeda tua dari berbagai komunitas onthel sukses mencuri perhatian wisatawan dan menghidupkan kembali nuansa kolonial tempo dulu di kawasan bersejarah Kota Lama Semarang pada akhir pekan.

Mengenakan busana klasik seperti lurik, beskap, hingga topi lawas, iring-iringan pesepeda lintas generasi ini menyusuri sejumlah ikon kota, menjadikannya magnet pariwisata yang kental akan nilai sejarah.

Melintasi rute ikonis mulai dari Gereja Blenduk, Taman Srigunting, hingga Gedung Marba, aktivitas ini lebih dari sekadar olahraga santai.

Kegiatan yang digerakkan oleh gabungan komunitas lokal seperti Sjang, Dantelis, Gayang, Pitu, SOC (Sepeda Ontel Club), Kujang, hingga SOPAN (Sepeda Ontel Opo Anane) ini merupakan ruang pelestarian “pit kebo” sekaligus perawatan memori kolektif masyarakat ibu kota Jawa Tengah.

“Setiap kayuhan kami bukan hanya untuk berkeliling kota, tetapi juga menjaga cerita dan suasana Semarang masa lalu agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” ujar salah satu pegiat komunitas sepeda onthel Semarang.

Di tengah gempuran tren sepeda modern, eksistensi pecinta onthel membuktikan bahwa sepeda klasik tetap memiliki tempat istimewa.

Selain di Kota Lama, komunitas ini juga rutin meramaikan Car Free Day (CFD) Simpang Lima serta aktif berpartisipasi dalam agenda gowes napak tilas perjuangan dan Festival Kota Lama, memastikan denyut nadi budaya dan sejarah Semarang terus berdetak.