Di Balik Estetiknya Tugu Muda Semarang: Jejak Darah Ribuan Nyawa dalam Pertempuran Lima Hari

Tugu Muda Semarang bukan sekadar tengara kota dan tempat berswafoto. Di bawah aspalnya tersimpan sejarah berdarah Pertempuran Lima Hari pada Oktober 1945

Monumen Tugu Muda Semarang berdiri megah di persimpangan jalan lalu lintas kota.
Tugu Muda di pusat Kota Semarang menjadi saksi bisu dan ikon sejarah yang dibangun untuk mengenang ribuan nyawa pejuang serta warga sipil pada Pertempuran Lima Hari, Oktober 1945. (Foto: kemenpar.go.id)

SEMARANG, Banggasemarang.id — Tugu Muda di pusat Kota Semarang kini diakrabi warga sebagai tengara estetik dan lokasi berswafoto favorit. Namun, di balik kemegahan monumen batu setinggi 53 meter tersebut, tersimpan sejarah kelam Pertempuran Lima Hari pada Oktober 1945 yang menewaskan ribuan pejuang dan warga sipil akibat perang kota melawan pasukan elite Jepang.

Bentrokan berdarah ini bermula dari penolakan Batalyon Kido untuk menyerahkan persenjataan kepada pemuda Indonesia dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Gesekan memuncak menjadi pertempuran terbuka pada 14 hingga 19 Oktober 1945.

Kemarahan rakyat Semarang tak terbendung setelah Dr. Kariadi ditembak mati oleh tentara Jepang saat hendak memeriksa tandon air minum warga yang diduga diracun.

Kawasan simpang lima di depan Lawang Sewu—lokasi Tugu Muda saat ini—dan Penjara Bulu menjadi titik pertempuran paling mematikan. Jumlah pasti korban jiwa memicu perdebatan di kalangan sejarawan.

Peneliti Jepang, Ken’ichi Goto, mencatat sekitar 2.000 orang Indonesia tewas. Sebaliknya, sejarawan Belanda P.M.H. Groen mengestimasi korban tewas dari pihak Indonesia di bawah 300 orang. Sementara itu, Mayor Kido melaporkan 42 tentaranya tewas dan 213 lainnya hilang.

Demi merawat ingatan kolektif atas tragedi tersebut, pemerintah mendirikan monumen berbentuk lilin menyala rancangan Salim Sastrodiwiryo. Peletakan batu pertama dilakukan pada 10 November 1951, dan diresmikan langsung oleh Presiden Ir. Soekarno pada 20 Mei 1953.

Tugu Muda berdiri di atas dasar segi lima yang dihiasi lima panel relief, menceritakan penderitaan rakyat dari wabah kelaparan hingga meraih kemenangan. Kini, monumen tersebut bukan sekadar pengatur lalu lintas, melainkan nisan kolektif yang menegaskan bahwa kemerdekaan warga Semarang pernah dibayar mahal dengan darah dan air mata.