Bukan Sekadar Amal, Ibu Profesional Semarang Hidupkan Lingkaran Kepedulian Lewat “Berbagi Tanpa Sekat”

Lewat tagline “Layak Pakai Layak Bahagia”, sebanyak 100 paket takjil bergizi disalurkan dan puluhan boks pakaian berkualitas ludes dipilih warga dengan sistem bayar seikhlasnya untuk memupuk keberpihakan sosial.

Warga memilih pakaian layak pakai dalam acara Berbagi Tanpa Sekat Ibu Profesional Semarang di Masjid Diponegoro Pleburan.
Menjaga Martabat: Sejumlah warga antusias memilih pakaian layak pakai dengan sistem bayar seikhlasnya dalam kegiatan "Berbagi Tanpa Sekat" di halaman Masjid Diponegoro Pleburan, Semarang, Sabtu (7/3/2026).

SEMARANG, Banggasemarang.id – Komunitas Ibu Profesional Semarang menghidupkan kembali tradisi kepedulian melalui kegiatan “Berbagi Tanpa Sekat” yang menyalurkan ratusan paket berbuka dan pakaian layak pakai dengan sistem bayar seikhlasnya di Masjid Diponegoro Pleburan, Semarang, Sabtu (7/3/2026).

Aksi ini bertujuan menumbuhkan empati sekaligus menjaga martabat warga dhuafa agar tidak sekadar menjadi objek belas kasihan.

Kegiatan yang diinisiasi oleh program KLiK (Kenali, Lindungi, Katakan No Bullying) ini melibatkan sekitar 250 anggota komunitas dan masyarakat umum.

Selain membagikan makanan, fokus utama yang menyentuh hati adalah penyediaan boks berisi pakaian bersih dan berkualitas yang ditata rapi untuk dipilih langsung oleh warga sekitar.

Ketua panitia sekaligus penggerak KLiK Ibu Profesional Semarang, Nur Rahma Wahyu, mengungkapkan bahwa donasi yang terkumpul mencapai Rp3.760.000. Dana tersebut dikonversi menjadi 100 paket berbuka puasa bergizi senilai Rp35.000 per paket.

“Dari donasi tersebut kami menyiapkan 100 paket berbuka puasa untuk ibu, anak dhuafa, dan masyarakat sekitar yang membutuhkan. Sisanya kami salurkan sebagai infak untuk masjid,” ujar Nur Rahma saat ditemui di lokasi kegiatan.

Keunikan acara ini terletak pada lapak pakaian layak pakai. Alih-alih diberikan secara gratis, warga dipersilakan memilih pakaian untuk keluarga mereka dan membayar dengan nominal seikhlasnya.

Konsep ini sengaja diambil untuk memberikan ruang bagi penerima manfaat agar tetap berdaya dan memiliki kebanggaan saat membawa pulang pakaian tersebut.

Sekretaris Regional Ibu Profesional Semarang, Rovanty Frizdew, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar amal (charity), melainkan gerakan edukatif tentang keberpihakan.

“Kami ingin setiap orang bisa menakar kebutuhan dan kemampuan dirinya. Dengan begitu lingkaran kepedulian ini tidak terputus. Dari donatur pakaian hingga pembeli pakaian, semuanya mendapatkan nilai dari kegiatan ini,” jelas Rovanty.

Hasil penjualan pakaian yang mencapai Rp1.021.000 tersebut nantinya akan disalurkan kembali melalui program sosial “Sejuta Cinta” milik komunitas.

Momentum Ramadan 2026 ini juga menandai kembalinya tradisi tahunan Ibu Profesional Semarang yang sempat terhenti sejak pandemi 2020 lalu.

Melalui semangat “Berbagi Tanpa Sekat”, komunitas ini berharap budaya empati tanpa stigma dapat terus berakar dan berdampak luas bagi masyarakat.