PEMALANG, Banggasemarang.id — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menetapkan pemulihan kondisi psikologis atau trauma healing sebagai prioritas penanganan pascabencana banjir bandang di Kabupaten Pemalang, selain fokus utama pada jaminan keselamatan fisik warga terdampak.
Langkah strategis ini diambil mengingat banyaknya penyintas yang masih mengalami guncangan jiwa mendalam akibat bencana air bah yang menerjang kawasan lereng Gunung Slamet secara mendadak tersebut.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan komitmen tersebut saat meninjau langsung lokasi terdampak paling parah di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Minggu (25/1/2026).
Dalam kunjungannya, Taj Yasin mendapati fakta bahwa mayoritas warga masih dihantui ketakutan luar biasa karena pengalaman traumatis saat arus deras bercampur lumpur dan material kayu menghantam pemukiman mereka di tengah keterbatasan.
Pemerintah menyadari bahwa penanganan infrastruktur fisik tidak akan efektif jika kesehatan mental masyarakat belum stabil, sehingga pendampingan psikologis akan digencarkan sebelum melangkah ke tahap evaluasi dan rekonstruksi lanjutan.
“Mereka masih trauma. Kami melihat ketika ada pemantik sedikit saja, emosinya sudah meluap-luap. Ini yang harus kita redakan dulu. Kita pikirkan bagaimana kesehatannya, bagaimana mentalnya, trauma healing-nya supaya bisa pulih kembali. Setelah itu baru kita evaluasi bersama,” ujar Taj Yasin Maimoen di lokasi bencana.

Bencana hidrometeorologi ini diketahui tidak hanya melanda Kabupaten Pemalang, tetapi juga menerjang wilayah di bawah kaki Gunung Slamet lainnya seperti Purbalingga, sebagian Tegal, hingga Kabupaten Brebes.
Trauma mendalam akibat peristiwa tersebut salah satunya dirasakan oleh Sulastri (27), warga Desa Penakir yang harus kehilangan suaminya, Tanto (33), dalam tragedi yang terjadi pada Sabtu (17/1/2026) dini hari itu.
Dengan mata berkaca-kaca, Sulastri menceritakan detik-detik mengerikan saat air bah datang dari arah belakang rumahnya sekitar pukul 02.00 WIB dan memisahkan dirinya dari sang suami, meski ia sendiri berhasil selamat setelah berpegangan pada kayu.
“Kejadian pas pukul 02.00 WIB. Itu yang paling besar menghantam rumah-rumah. Datangnya dari belakang rumah,” tutur Sulastri tak kuasa menahan kesedihan.
Sebagai bentuk kepedulian negara, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyerahkan santunan sebesar Rp10 juta kepada Sulastri yang rencananya akan digunakan untuk menyambung hidup ke depan.
Sementara itu, ketakutan serupa juga dialami Supinah (62), pengungsi lain yang memilih bertahan di posko pengungsian meski air telah surut. Ia mengaku belum berani pulang ke rumahnya yang masih kotor karena bayang-bayang bencana masih terasa nyata, namun ia bersyukur seluruh kebutuhan dasar seperti makan tiga kali sehari, pakaian, dan camilan terjamin selama di pengungsian.
“Rumah masih kotor. Saya biarkan dulu, yang penting saya selamat. Baju dikasih, makan sehari tiga kali, terus dikasih camilan,” ungkap Supinah.












