SEMARANG, Banggasemarang.id – Sejarawan meyakini rel trem uap pertama di Hindia Belanda peninggalan abad ke-19 masih terkubur utuh di bawah aspal jalanan protokol Kota Semarang, Jawa Tengah.
Jalur baja peninggalan perusahaan Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) tersebut diduga kuat hanya ditimbun aspal demi menekan biaya pembongkaran, menyisakan misteri sejarah di bawah hiruk-pikuk lalu lintas modern saat ini.
Pola penimbunan jalan ini diyakini sama dengan temuan proyek MRT Jakarta di Glodok pada 2021 lalu, di mana rel trem era Belanda ditemukan utuh di kedalaman 15 hingga 110 sentimeter. Di Semarang, jejak baja SJS tersebut diperkirakan masih tertidur lelap di bawah mulusnya aspal kawasan Jalan MT Haryono hingga Kota Lama.
Semarang tercatat sebagai kota pelopor yang mencicipi modernitas transportasi massal jauh sebelum kota-kota lain di Pulau Jawa. Rute perdana trem uap yang dikelola oleh tiga pengusaha Eropa—J.F. Dijkman, W. Walker, dan G.H. Clifford—ini resmi dibuka pada 1 Desember 1882.
“Jalur trem pertama yang dibangun di Kota Semarang adalah jalur dari Stasiun Jurnatan hingga Halte Jomblang,” catat jurnal akademik Universitas Jambi (2019) yang mengkaji mobilitas sejarah trem Semarang.
Ekspansi transportasi ini berlangsung masif dengan menggunakan standar rel selebar 1.067 mm, yang kelak diwariskan menjadi sistem perkeretaapian nasional. Pada masa keemasannya, jaringan rel SJS membentang hingga 417 kilometer, menghubungkan Pelabuhan Semarang dengan wilayah penghasil gula dan kayu seperti Demak, Kudus, Pati, dan Juwana.
Sayangnya, kejayaan trem uap perlahan meredup memasuki dekade 1940-an karena dianggap usang dan kalah saing dari kendaraan bermotor. Pukulan telak terjadi pada masa pendudukan militer Jepang (1942-1945), di mana banyak jalur baja dibongkar paksa untuk kebutuhan mesin perang Dai Nippon. Sisanya, pasca-kemerdekaan, perlahan mati akibat tingginya biaya perawatan.
Kini, di tengah wacana reaktivasi trem dan pembangunan transportasi publik baru, keberadaan baja-baja yang terkubur di aspal Semarang menjadi pengingat ironis bahwa seabad lalu, kota ini pernah memiliki sistem transportasi massal terintegrasi yang sangat maju.
