SEMARANG, Banggasemarang.id — Perjuangan haru mahasiswa lintas negara dalam menaklukkan guncangan budaya (culture shock), bertahan di tengah krisis politik, hingga menghadapi ancaman “ilusi pemahaman” Kecerdasan Buatan (AI) menjadi sorotan utama dalam FIPP International Forum 2026 di Aula Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kamis (19/2/2026).
Kisah ketangguhan yang menyentuh mencuat dari Hsu Nandar Myint, mahasiswi S2 asal Myanmar. Ia bersaksi bagaimana pendidikan di negaranya tetap berdenyut melalui pemanfaatan radio dan modul cetak di tengah lumpuhnya teknologi akibat krisis politik pasca-2021. Realitas ini membuktikan bahwa kreativitas komunitas mampu menjaga nyala pembelajaran di tengah keterbatasan total.
Sementara itu, mahasiswa S3 asal Kirgistan, Nurtilek Kadyrov, membagikan perjuangan psikologisnya beradaptasi selama 11 tahun di lingkungan budaya Jawa. Ia menilai kelangsungan pendidikan di tanah rantau sangat bergantung pada kecerdasan kultural.
“Kecerdasan budaya adalah kunci yang mengubah tembok perbedaan menjadi jembatan kolaborasi,” ujar Nurtilek menceritakan pengalamannya.
Tantangan pendidikan rupanya tidak hanya datang dari krisis fisik dan budaya, tetapi juga disrupsi digital. Mahasiswi Hukum Ekonomi Syariah, Annisa Denti Papita, secara tegas memperingatkan fenomena “ilusi pemahaman”. Ia menyoroti bagaimana kemudahan akses AI berpotensi memberikan rasa paham palsu yang lambat laun mengikis kedalaman analisis dan integritas intelektual mahasiswa.
Di ranah domestik, isu resiliensi juga disuarakan oleh mahasiswa lokal. Jenyes Intan Sururoh menyoroti ketangguhan guru Bimbingan Konseling yang lincah menembus keterbatasan fasilitas demi merespons masalah emosional siswa. Di sisi lain, Shelma Rania membedah perjuangan perempuan melepaskan diri dari belenggu norma gender yang memasung efikasi diri mereka.
Di tengah pelaksanaan kebijakan Work From Anywhere (WFA) hari pertama Ramadan, Dekan FIPP UNNES, Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si., menegaskan bahwa forum yang juga melibatkan mahasiswa asal Gambia ini menjadi bukti nyata komitmen kampus dalam merawat pendidikan yang inklusif.
“Kolaborasi internasional melalui student exchange dan temu akademik lintas negara adalah ikhtiar kita untuk terus meluaskan cakrawala mahasiswa,” tuturnya.
