Publik kaget membaca berita WNI meninggal di Singapura baru-baru ini. Insiden kecelakaan ini terjadi di tengah hiruk-pikuk kawasan Chinatown yang ramai. Jenazah korban anak memang sudah kembali ke tanah air. Namun, publik masih menyoroti kelanjutan proses hukum pengemudi mobil tersebut.
Selain itu, masyarakat juga memantau kondisi ibunda korban yang masih kritis. Tragedi memilukan ini menimpa sebuah keluarga kecil asal Indonesia. Mereka awalnya ingin menikmati liburan akhir pekan yang tenang. Sayangnya, rencana indah itu berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap.
Peristiwa naas ini merenggut nyawa anak mereka yang baru berusia enam tahun. Kawasan Chinatown siang itu sangat padat oleh turis mancanegara. Orang-orang berjalan kaki menikmati cuaca siang yang cukup cerah. Sheyna berjalan riang bersama sang ibu tercinta, Raisha Anindra.
Sang ayah berjalan tidak jauh di belakang mereka. Ia melangkah santai sambil mendorong kereta bayi milik keluarga. Keluarga ini baru saja mengunjungi objek wisata Kuil Buddha. Mereka melintasi area pedestrian South Bridge Road dengan sangat tenang.
Jalur pejalan kaki ini biasanya sangat aman bagi turis asing. Singapura memang terkenal memiliki aturan lalu lintas yang sangat ketat. Namun, petaka tiba-tiba muncul dari arah pintu keluar area parkir. Sebuah mobil perak melaju cukup cepat tanpa memberi peringatan sama sekali.
Kendaraan roda empat itu langsung menabrak Sheyna dan ibunya. Kejadian ini berlangsung sangat cepat tepat di depan mata sang ayah. Saksi mata melihat pengemudi mobil tampaknya kurang fokus berkendara. Ia diduga tidak menyadari keberadaan pejalan kaki di persimpangan jalan tersebut.
Benturan keras itu membuat ibu dan anak ini langsung tergeletak. Aspal jalanan Chinatown seketika menjadi saksi bisu kecelakaan lalu lintas ini. Berita mengenai WNI meninggal di Singapura ini langsung menyebar sangat cepat. Warga sekitar lokasi segera berlari memberikan pertolongan pertama bagi korban.
Cuaca siang itu sangat terik dan cukup menyengat kulit pejalan kaki. Beberapa pedagang berinisiatif memayungi tubuh korban yang sedang tak berdaya. Petugas medis dari Singapore Civil Defence Force tiba tidak lama kemudian. Mereka bergerak sangat cepat mengevakuasi kedua korban ke dalam ambulans.
Sirine mobil menderu membelah kemacetan jalanan menuju fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan darurat ini berlangsung sangat profesional dan cekatan. Tim medis membawa korban menuju Singapore General Hospital sesegera mungkin. Dokter berusaha keras menyelamatkan nyawa gadis kecil yang malang tersebut.
Namun, takdir rupanya berkata lain pada Jumat sore yang kelabu itu. Luka benturan di bagian kepala Sheyna ternyata terlampau parah. Tim dokter akhirnya menyatakan Sheyna meninggal dunia sore itu juga. Tangis histeris sang ayah pecah seketika di lorong rumah sakit.
Ia baru saja kehilangan putri kecil kesayangannya dengan cara sangat tragis. Kepergian mendadak ini tentu meninggalkan luka batin yang sangat dalam. Sementara itu, banyak orang menanyakan kondisi ibu Sheyna Lashira di RS Singapura. Sang ibu selamat dari maut meski mengalami luka yang sangat serius.
Tim dokter langsung melakukan tindakan operasi darurat untuk menyelamatkan nyawanya. Penanganan medis berjalan lancar berkat kesigapan pihak staf rumah sakit. Menurut laporan medis terbaru, kondisi Raisha Anindra mulai menunjukkan tanda stabil. Namun, ia menderita patah tulang parah pada beberapa bagian tubuhnya.
Ia masih membutuhkan perawatan intensif dan ruang observasi ketat pasca-operasi. Tim medis terus memantau perkembangan kesehatannya secara saksama setiap jam. Proses pemulihan fisik ini pasti akan memakan waktu cukup lama. Belum lagi, ia harus menghadapi trauma psikologis yang sangat berat.
Kehilangan buah hati secara mendadak tentu menghancurkan hati seorang ibu. Keluarga besar terus memberikan dukungan moral tanpa henti dari jarak jauh. Di sisi lain, publik juga mendesak kejelasan proses hukum tersangka. Beredar rumor simpang siur di berbagai grup aplikasi pesan singkat.
Beberapa netizen sempat mengira penabrak WNI di Singapura dibebaskan begitu saja. Kabar bohong ini sempat memicu amarah warganet di Indonesia. Rumor tersebut tentu membuat banyak pihak merasa kecewa dan resah. Mereka menuntut keadilan penuh bagi keluarga korban kecelakaan tragis ini.
Oleh karena itu, otoritas keamanan setempat segera merilis pernyataan resmi. Langkah ini bertujuan meredam spekulasi liar di tengah masyarakat luas. Melalui update Kepolisian Singapura kasus WNI ini, polisi membantah keras rumor tersebut. Polisi menegaskan mereka telah menahan pengemudi wanita berusia 38 tahun itu.
Wanita ini tidak mendapat kebebasan sama sekali dari jerat hukum setempat. Ia harus mempertanggungjawabkan kelalaiannya di depan meja pengadilan. Polisi terus menyelidiki kasus kecelakaan maut ini dengan sangat serius. Pengemudi menghadapi tuduhan mengemudi tanpa pertimbangan wajar hingga menyebabkan kematian.
Ancaman hukumannya mencapai tiga tahun penjara dan denda yang sangat memberatkan. Pencabutan izin mengemudi juga mengancam masa depan mobilitas pelaku. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura langsung turun tangan membantu. Pihak staf bergerak cepat mendampingi keluarga korban sejak hari pertama.
Mereka memastikan pihak rumah sakit memberikan penanganan medis yang paling optimal. Bantuan konsuler ini sangat meringankan beban pikiran sang ayah. Staf kedutaan juga membantu mengurus tumpukan dokumen administrasi kepulangan. Proses pemulangan jenazah antarnegara biasanya membutuhkan jalur birokrasi yang panjang.
Berkat bantuan mereka, jenazah Sheyna bisa segera kembali ke kota Jakarta. Koordinasi antar lembaga berjalan sangat baik dan efisien. Jenazah anak perempuan ini akhirnya tiba di tanah air tercinta. Keluarga langsung menggelar prosesi pemakaman di TPU Tanah Kusir Jakarta.
Suasana duka dan air mata mengiringi kepergian malaikat kecil ini. Semoga keluarga selalu mendapat ketabahan besar dalam melewati masa sulit ini.
Baca lagi.
4 Wedang Ronde Semarang Legendaris: Cap Jago hingga Ibu Siti
