Siap Mengaspal 2027, Trans Jateng Koridor Gelangmanggung Bakal Pangkas Biaya Transportasi Warga Magelang dan Temanggung

Rencananya, koridor baru ini akan didukung oleh 14 armada bus yang melayani rute strategis mulai dari Terminal Maron di Kabupaten Temanggung, melintasi Terminal Tidar di Kota Magelang, hingga berakhir di Terminal Borobudur Kabupaten Magelang.

Bus merah Trans Jateng berhenti di halte untuk menaikan penumpang di jalur rute wisata dan aglomerasi.
Armada Trans Jateng saat berhenti menaikkan penumpang di salah satu halte. Rencana pengoperasian koridor Gelangmanggung pada 2027 akan melayani rute strategis mulai dari Terminal Maron (Temanggung), Terminal Tidar (Kota Magelang), hingga Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang) guna mendongkrak aksesibilitas sektor pariwisata.

SEMARANG, Banggasemarang.id — Rencana pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng Koridor Gelangmanggung pada tahun 2027 menjadi angin segar bagi masyarakat di wilayah Magelang dan Temanggung karena moda transportasi massal berbasis aglomerasi ini diproyeksikan mampu memangkas pengeluaran transportasi warga hingga ratusan ribu rupiah per bulan sekaligus membuka aksesibilitas antarwilayah yang lebih luas.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk merealisasikan konektivitas di kawasan aglomerasi yang meliputi Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung tersebut guna mendukung mobilitas harian dan sektor pariwisata.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko, menjelaskan bahwa persiapan matang tengah dilakukan untuk memastikan sistem transportasi ini terintegrasi mulai dari tingkat desa hingga kota.

Keseriusan ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan bersama antara Gubernur Ahmad Luthfi dengan para kepala daerah di wilayah Gelangmanggung untuk membangun kolaborasi sistem transportasi yang solid.

“Persiapan pengembangan aglomerasi ini diawali dengan membangun komitmen bersama untuk integrasi dan kolaborasi sistem transportasi, mulai dari sistem primer hingga kota dan desa,” ujar Arief di Semarang, Jumat (23/1/2026).

Rencananya, koridor baru ini akan didukung oleh 14 armada bus yang melayani rute strategis mulai dari Terminal Maron di Kabupaten Temanggung, melintasi Terminal Tidar di Kota Magelang, hingga berakhir di Terminal Borobudur Kabupaten Magelang.

Kehadiran rute ini disambut positif oleh Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, yang menilai kolaborasi aglomerasi ini akan menciptakan mobilitas warga yang lebih nyaman, terhubung, dan berkelanjutan karena transportasi tidak lagi berdiri sendiri-sendiri antarwilayah.

Dukungan teknis juga datang dari Pemerintah Kabupaten Temanggung yang siap menyediakan angkutan pengumpan atau feeder.

Seorang pramujasa Trans Jateng tengah melayani transaksi pembayaran penumpang di dalam armada bus. Kehadiran koridor baru Trans Jateng di wilayah Gelangmanggung (Magelang-Temanggung) yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2027 diproyeksikan mampu memangkas pengeluaran transportasi masyarakat antara Rp100.000 hingga Rp300.000 per bulan.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Temanggung, Saltiyono Atmaji, memastikan pihaknya akan menyiapkan armada yang mengantarkan penumpang dari berbagai wilayah di Temanggung menuju halte-halte Trans Jateng yang tersedia.

Dari sisi ekonomi, kehadiran Trans Jateng membawa dampak signifikan bagi dompet masyarakat. Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Tengah, Bekora Seputranto, mengungkapkan bahwa berdasarkan survei pada tujuh koridor yang sudah beroperasi, rata-rata masyarakat mampu menghemat biaya transportasi antara Rp100.000 hingga Rp300.000 setiap bulannya.

Penghematan ini semakin terasa bagi kelompok pelajar, mahasiswa, buruh, veteran, dan lansia yang mendapatkan tarif khusus sebesar Rp1.000, turun dari tarif sebelumnya Rp2.000 sesuai keputusan gubernur yang berlaku sejak April 2025.

Bekora juga menepis kekhawatiran bahwa kehadiran Trans Jateng akan mematikan usaha angkutan umum yang sudah ada sebelumnya.

Pihaknya justru merangkul operator eksisting melalui skema konsorsium, proses peremajaan armada atau scraping, serta membuka peluang bagi awak angkutan terdampak untuk bergabung menjadi pramudi atau petugas operasional.

“Operator eksisting akan dilibatkan sebagai operator Trans Jateng melalui pembentukan konsorsium, proses scraping, serta mengikuti lelang. Awak angkutan yang terdampak juga dapat bergabung sebagai pramudi atau pramujasa,” jelas Bekora.

Saat ini, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah tengah merampungkan penyusunan Detailed Engineering Design (DED) dan gencar melakukan sosialisasi kepada Organisasi Angkutan Darat (Organda) di tiga wilayah tersebut.

Dengan rekam jejak melayani 10,2 juta penumpang sepanjang tahun 2025 di tujuh koridor lainnya, perluasan layanan ke wilayah Gelangmanggung diharapkan dapat semakin mengurangi kesenjangan antarwilayah di Jawa Tengah.