Masjid Menara Layur: Mercusuar Ingatan yang Menolak Tenggelam di Tepian Sungai Berok

Ketika Pecinan lebih sering disebut sebagai wajah kota lama, Kampung Melayu justru menyimpan cerita tentang pelaut dan pedagang dari Arab, Melayu, hingga Asia Selatan (Yaman, Gujarat, India, dan Pakistan) yang sejak ratusan tahun lalu membangun hidup di tepian sungai.

Berdiri kokoh di jantung Kampung Melayu, Masjid Menara Layur tetap teguh menjadi saksi bisu kejayaan Semarang sebagai kota pelabuhan kosmopolit masa lalu. Dengan menara ikonik setinggi 30 meter yang dulunya berfungsi sebagai mercusuar pemandu kapal di Sungai Berok, bangunan ini merupakan "pusaka" akulturasi budaya Arab, Melayu, dan Jawa yang tak lekang oleh waktu. (Foto: Dok. Bangga Semarang)

SEMARANG, Banggasemarang.id – Dulu, dari puncak menara setinggi hampir 30 meter ini, mata para penjaga terpaku pada layar kapal dagang yang membelah Sungai Berok. Mereka menunggu tanda arus pasang, muatan rempah, atau perahu yang terlambat pulang.

Siang ini, selepas azan Dzuhur, yang tersisa hanyalah panas matahari dan sunyi Kampung Melayu. Aspal memantulkan cahaya menyilaukan, plester dinding bangunan tua mengelupas, dan udara seolah menggantung tanpa suara.

Di balik tembok putihnya yang mulai kusam, sebuah bangunan bertahan sebagai mercusuar ingatan: Masjid Menara Layur.

Bangunan itu berdiri tenang di kawasan pesisir yang kerap luput dari percakapan sejarah Semarang. Ketika Pecinan lebih sering disebut sebagai wajah kota lama, Kampung Melayu justru menyimpan cerita tentang pelaut dan pedagang dari Arab, Melayu, hingga Asia Selatan (Yaman, Gujarat, India, dan Pakistan) yang sejak ratusan tahun lalu membangun hidup di tepian sungai.

Dari pertemuan itulah pusaka ini tumbuh, menyatu dengan keringat perdagangan dan napas syiar Islam yang mengalir pelan mengikuti arus air. Masjid ini lahir dari lumpur Sungai Berok dan langkah kaki para pedagang.

Sejarawan Universitas Negeri Semarang (UNNES) Mukhamad Sokheh menyebut kawasan Layur sebagai simpul penting persebaran Islam di Semarang bukan lewat mimbar semata, melainkan lewat interaksi sehari-hari di pelabuhan dan pasar.

Dalam diskusinya baru-baru ini, ia menyebut bangunan tersebut sebagai pusaka Melayu, ruang ibadah yang sejak awal dirancang menyatu dengan denyut sosial dan ekonomi kawasan pesisir.

Sejarawan UNNES, Pak Sokheh, saat menjelaskan signifikansi sejarah Masjid Menara Layur di kawasan Kampung Melayu, Semarang. Bagi Pak Sokheh, bangunan ikonik ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan sebuah “pusaka Melayu” yang menjadi bukti bisu betapa cairnya interaksi budaya Arab, Melayu, hingga Tionghoa di masa lalu.

Dulu, Sungai Berok yang juga dikenal sebagai Kali Semarang adalah jalur hidup. Perahu-perahu bersandar, barang dipindahkan, orang-orang singgah. Kedekatan bangunan ibadah dengan sungai bukan kebetulan, melainkan kebutuhan.

Ia menjadi ruang salat, tempat berteduh, sekaligus titik temu sebelum perjalanan dilanjutkan. Jejak itu masih bisa dilacak lewat arsip visual kolonial. Foto-foto dari dekade 1920–1930-an yang tersimpan di KITLV Leiden memperlihatkan menara masjid menjulang di antara rumah-rumah Kampung Melayu, berdiri begitu dekat dengan badan sungai seolah menjadi penanda bagi siapa pun yang datang dari arah air.

Menaranya memang tak biasa. Tingginya sekitar 30 meter, ramping, dan sekilas menyerupai mercusuar. Selain mengumandangkan azan, menara itu dulu berfungsi sebagai penunjuk arah.

“Dulu menaranya jadi mercusuar buat kapal,” kata Robidan, marbot yang sudah empat tahun terakhir menjaga bangunan ini, saat ditemui Bangga Semarang.

Tangannya yang mulai keriput terangkat, menunjuk ke arah menara, seakan menegaskan bahwa fungsi itu bukan sekadar cerita lama. Posisi menara dalam foto-foto arsip kolonial menguatkan kisah tersebut—sebuah orientasi visual bagi pelaut sebelum mercusuar modern berdiri di pelabuhan Semarang.

Berdiri kokoh di jantung Kampung Melayu, Masjid Menara Layur tetap teguh menjadi saksi bisu kejayaan Semarang sebagai kota pelabuhan kosmopolit masa lalu. Dengan menara ikonik setinggi 30 meter yang dulunya berfungsi sebagai mercusuar pemandu kapal di Sungai Berok, bangunan ini merupakan “pusaka” akulturasi budaya Arab, Melayu, dan Jawa yang tak lekang oleh waktu. (Foto: Dok. Bangga Semarang)

Namun bukan hanya menara yang menyimpan rahasia. Bangunan ini pernah memiliki dua lantai. Lantai dasar menghadap langsung ke sungai, menjadi akses bongkar muat dan lalu lintas manusia. Kini, lantai itu telah menjadi rahasia di bawah tanah.

Tangga yang dulu dipijak para pelaut berakhir buntu, terkubur sedimentasi dan penurunan tanah Semarang yang rakus.

“Masjid ini dulunya dua lantai. Sekarang yang dipakai tinggal lantai atas,” ujar Pak Robidan. Ia menyebut pondasi lama yang masih bisa ditelusuri batas samar antara masa lalu yang lapang dan masa kini yang menyempit.

Bangunan yang tersisa hari ini memantulkan keberagaman Kampung Melayu. Atap tajug bertumpang khas masjid Jawa berpadu dengan menara bergaya Timur Tengah, mengingatkan pada masjid-masjid di Hadramaut.

Di beberapa sudut, sentuhan Eropa dan pengaruh Tionghoa tampak pada struktur penyangga atap. Pak Sokheh menyebut arsitektur ini sebagai cerminan budaya Melayu yang fungsional tak larut dalam ornamen filosofis, tetapi memberi ruang longgar untuk beribadah dan bergerak, dekat dengan sungai, dekat dengan kehidupan.

Selepas Dzuhur, suasana di dalam bangunan itu terasa hening. Habib Umar, imam yang setahun terakhir memimpin salat di sini, melipat sajadah usai jamaah bubar. Masjid ini tak menyelenggarakan salat Jumat, namun tetap hidup oleh salat wajib dan salat Id. Suaranya tenang saat menjelaskan seperti ritme tempat yang ia jaga.

Kehangatan lain hadir setiap Ramadan. Dari dapur kecil, aroma kopi Arab mengepul pahit, hangat, dengan sentuhan rempah. “Setiap bulan puasa ada kopi Arab,” kata Robidan.

Asapnya menyebar pelan menjelang magrib, menemani majelis taklim dan buka bersama. Tradisi itu seperti menolak tunduk pada zaman, mengikat jamaah dan musafir dalam ritual sederhana yang bertahan dari generasi ke generasi.

Sebagai cagar budaya, bangunan ini telah beberapa kali direnovasi. Namun tidak semua bagian berubah. Pak Robidan kembali menunjuk ke atas ke balok-balok kayu tua yang masih asli. Di sanalah ingatan tinggal, menyimpan kisah orang-orang Arab, Melayu, dan Tionghoa yang membangunnya bersama-sama.

Menara itu kini tak lagi mengawasi layar kapal. Sungai pun tak seramai dulu.

Namun di tengah sunyi siang Kampung Melayu, bangunan ini tetap berdiri menjaga cerita tentang Semarang sebagai kota pelabuhan kosmopolit, tempat sejarah tidak hilang, hanya perlahan tenggelam. Dan selama masih ada yang mau berhenti, mendengar, dan mengingat, mercusuar ingatan itu akan terus menyala.