Aksi Haru Jemaah Haji Muhammadiyah Semarang: Rebutan Dorong Kursi Roda Lansia di Masjidil Haram demi Kualitas Manasik

Aksi inspiratif jemaah haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang yang sukarela mendorong kursi roda jemaah lansia di Masjidil Haram demi menjaga kualitas manasik dan ibadah.

Relawan jemaah haji Muhammadiyah Semarang mendorong kursi roda jemaah lansia saat tawaf di depan Ka'bah.
Lahan Amal: Sejumlah jemaah Kloter 28 SOC Semarang bergantian mendorong kursi roda jemaah lansia saat melaksanakan umrah wajib di Masjidil Haram, Makkah, Senin (11/5/2026).

MAKKAH, Banggasemarang.id – Sebanyak 40 jemaah haji Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang secara sukarela bergantian mendorong kursi roda 20 jemaah lansia saat melaksanakan umrah wajib di Masjidil Haram, Makkah, pada Ahad (10/5/2026) malam hingga Senin dini hari, demi menjaga kekhusyukan doa dan kualitas manasik saudara serombongan.

Aksi yang viral di media sosial ini bermula dari komitmen rombongan untuk tidak menggunakan jasa pendorong kursi roda komersial di Masjidil Haram. Keputusan tersebut diambil bukan untuk penghematan, melainkan untuk memastikan para lansia tetap didampingi secara spiritual selama prosesi tawaf dan sai.

Ketua Kafilah Kelompok Bimbingan Haji dan Umrah (KBIHU) Muhammadiyah Kloter 28 SOC Semarang, Dr. Mafrukhi, menjelaskan bahwa pendampingan mandiri ini sangat krusial bagi kelancaran ibadah jemaah risiko tinggi.

“Jemaah lansia atau risiko tinggi didorong kursi rodanya oleh petugas dan jemaah dari rombongan. Kami tidak menggunakan jasa dorong dari Masjidil Haram karena mereka hanya mendorong tanpa disertai manasik dan doanya,” ujar Mafrukhi saat ditemui di pelataran Ka’bah, Senin (11/5/2026).

Strategi ini dilakukan dengan membagi rombongan menjadi dua gelombang. Jemaah yang bugar menyelesaikan umrah pada pagi hari, sementara jemaah lansia dijadwalkan pada malam hari untuk menghindari cuaca panas ekstrem dan kepadatan massa yang berlebih.

Awalnya, panitia sempat mengkhawatirkan ketersediaan tenaga sukarela karena kondisi fisik jemaah yang baru saja menempuh perjalanan delapan jam dari Madinah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya; para jemaah muda dan bugar justru berebut untuk menjadi relawan pendorong.

Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter 28 SOC Semarang, Drs. H. Nurbini, M.Si., mengaku terharu dengan solidaritas yang ditunjukkan para jemaah.

“Bahkan jumlah relawan yang mendorong berlebih. Satu kursi didorong bergantian oleh dua sampai tiga jemaah. Paling tidak ada 40 orang yang ikut mendorong,” kenang Nurbini dengan nada bangga.

Menurutnya, kecepatan jasa pendorong komersial seringkali tidak sejalan dengan ketenangan ibadah yang dibutuhkan lansia. Dengan didorong oleh sesama jemaah, para lansia dapat melangitkan doa tanpa merasa tergesa-gesa. Peluh para relawan ini kini menjadi simbol persaudaraan sejati di tanah suci, sekaligus pengingat bahwa kemabruran haji tercermin dari kepedulian terhadap sesama.