SEMARANG – Ribuan warga menjadi saksi kemeriahan Dugderan Semarang 2026. Dentuman meriam Kolontoko dan pesona Kirab Dugderan MAJT sukses menghidupkan kembali semangat menyambut bulan suci.
Peristiwa budaya ini berlangsung meriah di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Senin, 16 Februari 2026. Sebagai tradisi menyambut Ramadan Semarang yang lestari sejak 1881, acara ini selalu dinanti warga. Dentuman bedug dan gelegar meriam pun memecah langit sore Kota Semarang.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, tampil memukau dalam kirab tersebut. Ia memerankan tokoh Kanjeng Adipati Raden Mas Tumenggung Prawirapradja. Sementara itu, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, terlihat anggun sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbadiningrum.
Prosesi inti berjalan lancar sesuai jadwal Dugderan 2026. Sumarno membacakan Suhuf Halaqah setelah menerimanya secara simbolis dari Wali Kota Semarang. Puncak acara terjadi saat pemukulan Bedug Ijo Mangunsari berdiameter 2,2 meter.
Suara bedug itu berpadu harmonis dengan bunyi meriam Kolontoko. Kombinasi suara ini sukses menyedot perhatian ribuan masyarakat di lokasi. Warga tampak sangat antusias mengabadikan setiap momen Kirab Dugderan MAJT tersebut.
Sumarno menegaskan makna mendalam di balik perayaan ini. Menurutnya, Dugderan bukan sekadar seremoni tahunan belaka. Acara ini memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat bagi masyarakat Jawa Tengah.
“Ini adalah tradisi yang mempunyai nilai yang perlu kita lestarikan,” ujar Sumarno di sela acara. Ia berharap momen Dugderan Semarang 2026 ini mampu meningkatkan ketakwaan umat Islam.
Selain itu, ia juga menyampaikan harapan besar bagi provinsi ini. Sumarno berdoa agar Jawa Tengah terhindar dari bencana. Ia pun ingin kesejahteraan masyarakat terus membaik di masa mendatang.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, turut memberikan pandangannya. Ia menyebut suasana tahun ini terasa jauh lebih semarak. Agustina menekankan filosofi unik tentang “Warak Ngendok” yang menjadi ikon acara.
“Yang unik hari ini, semua warak wajib ngendok,” tutur Agustina dengan semangat. Ia menjelaskan bahwa jika warak tidak bertelur, maka bisa memicu pertengkaran. Filosofi ini menyimbolkan pembagian rezeki yang merata.
Agustina juga memuji keterlibatan generasi muda dalam acara ini. Banyak anak kecil terlihat ikut menari dalam barisan kirab. Hal ini menjadi bukti keberhasilan transfer pengetahuan budaya kepada generasi penerus.
Menariknya, perhelatan ini bertepatan dengan perayaan Imlek dan masa puasa Paskah. Momentum langka ini semakin memperkuat harmoni keberagaman di Semarang. Hal ini tentu menjadi daya tarik wisata tersendiri.
Agustina optimistis kondisi damai ini membawa dampak positif. “Kalau Semarang damai, wisatawan akan lebih banyak berkunjung dan investasi pun meningkat,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Baca lagi.
