Misteri Jalan Mataram Semarang: Mengapa Warga Tolak Lupa Meski Diganti M.T. Haryono Pasca-G30S?

Mengapa warga Semarang lebih mengenal Jalan Mataram ketimbang nama resminya, Jalan M.T. Haryono? Simak sejarah toponimi unik dan tragedi G30S di baliknya.

Suasana lalu lintas dan bangunan pertokoan di Jalan M.T. Haryono atau Jalan Mataram, Kota Semarang.
Plang nama Jalan M.T. Haryono di kawasan pusat bisnis Kota Semarang. Meski telah berganti nama secara resmi, masyarakat lokal masih akrab menyebutnya sebagai Jalan Mataram. (Foto: Istimewa)

SEMARANG, Banggasemarang.id – Warga asli Kota Semarang hingga kini lebih mengenal nama Jalan Mataram dibandingkan nama resminya, Jalan M.T. Haryono. Fenomena toponimi ini berakar dari kebijakan “Nasionalisasi Memori” pascatragedi G30S pada 1965, saat pemerintah Orde Baru mengganti nama jalan protokol tersebut untuk menghormati pahlawan revolusi yang gugur.

Pergantian nama dari Mataram menjadi M.T. Haryono merupakan instruksi langsung pemerintah pusat pada masa itu. Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Semarang, ruas jalan vital sepanjang 25,5 kilometer yang membelah jantung kota ini secara administratif dan hukum diakui sebagai Jalan M.T. Haryono.

Meski plang hijau telah terpasang puluhan tahun, memori kolektif warga kota tetap memeluk erat nama “Mataram”. Pada era Hindia Belanda, jalan ini adalah urat nadi perniagaan utama yang menghubungkan kawasan Kota Lama melintasi pecinan hingga berujung di Pasar Peterongan.

Berbeda dengan Jalan Bojong (kini Jalan Pemuda) yang elitis, Jalan Mataram identik dengan hiruk-pikuk kelas pekerja dan saudagar menengah. Pada akhir abad ke-19, kawasan ini juga dilewati rel baja trem uap Samarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) rute Jurnatan-Jomblang yang membawa hasil bumi. Mataram telah menjadi identitas yang menghidupi warga lintas generasi.

Di balik hilangnya nama Mataram dari peta, terdapat kisah heroik sosok Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono. Pria kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924 ini sejatinya adalah mahasiswa sekolah kedokteran Ika Daigakko di era Jepang.

Panggilan kemerdekaan membuatnya meletakkan buku medis dan beralih mengangkat senjata bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Penguasaan bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman menjadikan Haryono sebagai perwira penghubung dan negosiator ulung di berbagai perundingan internasional. Ironisnya, jenderal dengan rekam jejak cemerlang ini justru menjadi korban di Lubang Buaya.

Saat ini, dualisme nama tersebut hidup berdampingan secara harmonis. Saat warga menyebut “Mataram”, mereka sedang merawat memori perniagaan peninggalan leluhur kota. Namun, kehadiran plang “M.T. Haryono” memastikan bahwa pengorbanan sang pahlawan revolusi tidak akan pernah terhapus dari sejarah Kota Semarang.