PEMALANG, Banggasemarang.id — Kabut kelabu merayap pelan, meliuk-liuk di antara punggungan pasir vulkanik yang labil seolah ingin menyembunyikan rahasia besar yang tersimpan di balik dada sang raksasa Jawa Tengah.
Angin dari arah kawah berembus membawa aroma belerang yang tajam, menerobos pori-pori jaket dan menggigit tulang hingga ke sumsum paling dalam.
Di atas sana, pada ketinggian 3.432 mdpl, suara gemuruh angin terdengar seperti bisikan purba yang menuntut rasa hormat dari siapa pun yang berani menginjakkan kaki.
Bagi Syafiq Gunung Slamet, pemuda dengan senyum hangat dari Magelang, kesunyian gunung ini bukan lagi sekadar pemandangan indah yang ia potret dalam benak, melainkan labirin dingin tanpa pintu keluar yang akhirnya merengkuhnya dalam dekapan abadi.
Syafiq Ridhan Ali Razan hanyalah seorang siswa kelas 12 dari SMAN 5 Magelang yang memiliki mimpi sederhana, menaklukkan puncak demi sebuah kenangan masa muda sebelum kelulusan.
Namun, langkah kakinya di pasir hitam yang berderik itu menjadi saksi bisu bagaimana sebuah pengorbanan lahir dari kemurnian persahabatan.
Ketika kabut turun menyelimuti pandangan mata hingga menyisakan jarak pandang tak lebih dari dua meter, Syafiq berdiri di persimpangan antara keselamatan diri atau nyawa seorang kawan.
Kabut yang Mencuri Arah di Jalur Dipajaya
Segalanya bermula saat rencana pendakian melintasi Jalur Dipajaya Pemalang berubah menjadi drama pelarian dari maut yang mencekam. Minggu sore itu, suhu anjlok secara drastis hingga titik beku menyentuh kulit.
Sahabatnya, Himawan, tergeletak di jalur yang terjal karena kram hebat yang membuat kakinya sekeras batu dan tak lagi sanggup menopang berat tubuh.
Di tengah deru angin yang memekakkan telinga dan kepungan halimun yang kian pekat, Syafiq Gunung Slamet mengambil keputusan paling berani sekaligus paling berisiko dalam hidupnya.
Ia memilih membelah pekatnya halimun sendirian, turun ke lembah yang gelap demi mencari bantuan untuk kawan sejatinya. “Tunggu di sini, aku cari pertolongan,” adalah kalimat terakhir yang menggantung di udara sebelum sosoknya ditelan rimbunnya hutan dan uap air yang membeku.
Namun, arah yang ia tuju dalam kondisi panik dan pandangan terbatas justru membawanya jauh ke sisi selatan, menjebaknya dalam jerat vegetasi rapat Kali Lembarang Gunung Slamet.
Alih-alih menemukan pos pendakian, langkahnya justru menuntunnya masuk ke dalam palung-palung curam yang tak pernah terjamah manusia.
Labirin Hijau dan Halusinasi Hipotermia yang Mematikan
Tujuh belas hari bukanlah sekadar deretan angka bagi mereka yang menunggu dengan cemas di bawah. Di kaki gunung, doa-doa melangit di antara isak tangis keluarga, sementara di atas sana, alam sedang memainkan perannya yang paling kejam terhadap tubuh ringkih seorang remaja.
Dalam kesendirian yang mencekam, Syafiq Gunung Slamet diduga berjuang sendirian melawan musuh yang tak kasat mata: Hipotermia. Dalam fase kritis yang memilukan, tubuh manusia sering kali mengalami anomali biologis yang dikenal sebagai paradoxical undressing.
Otak yang membeku mengirimkan sinyal panas semu yang menyiksa, sebuah malfungsi syaraf yang memaksa korban melepas pakaian mereka karena merasa tubuhnya seperti terpanggang, meski suhu di sekitarnya berada di bawah titik beku.
Isyarat pedih ini ditemukan di lapangan; pakaian, tas, dan dompet yang berceceran menjadi saksi betapa hebatnya pergulatan fisik dan mental Syafiq sebelum akhirnya ia menyerah pada dingin yang menyengat. Di antara akar-akar tua dan tanah yang selalu basah, ia melewati malam-malam panjang dalam igauan dingin yang tak terbayangkan.
Penantian yang Berakhir di Tebing Sunyi Watu Langgar
Operasi pencarian ini menjadi salah satu momen paling emosional di awal tahun 2026. Meski Basarnas sempat menutup operasi resmi sesuai prosedur tujuh hari, para relawan mandiri Gunung Slamet menolak untuk menyerah pada takdir.
Mereka bergerak seperti semut di atas punggungan naga, menyisir jurang-jurang curam yang bahkan sinar matahari pun segan untuk menyentuhnya. Medan di sana adalah perpaduan antara tanah yang becek, lumut yang licin, vegetasi yang mencakar kulit, dan udara yang kian tipis.
Hingga akhirnya, pada Rabu pagi, 14 Januari 2026, sebuah pesan radio bergetar di tengah rintik hujan yang tak kunjung usai. Jasad Syafiq Gunung Slamet ditemukan bersandar di sebuah ceruk bebatuan di area Watu Langgar.
Lokasi ini adalah sebuah “jalur buntu” yang dikenal wingit, sebuah titik temu sunyi antara jalur pendakian Gunung Malang dan Baturraden.
Mengutip laporan dari media lokal Radar Tegal, salah satu relawan yang terlibat evakuasi menggambarkan betapa ekstremnya lokasi tersebut: “Medan yang dilalui sangat curam, berada di lembahan sungai dengan tumpukan bebatuan besar yang jauh dari jalur pendakian resmi. Kondisinya mencerminkan betapa beratnya perjuangan korban bertahan hidup di alam terbuka.”
Perjalanan Pulang Menuju Peristirahatan Abadi
Proses evakuasi menjadi perjalanan panjang penuh peluh dan air mata yang mengalir di pipi para relawan yang tangguh. Mereka harus berjibaku dengan jalur licin, tebing vertikal, dan risiko longsor untuk membopong pulang sang pelajar.
Kepergiannya meninggalkan lubang besar bagi keluarga besar SMAN 5 Magelang, namun ia meninggalkan sebuah warisan tentang arti kesetiaan yang melampaui logika. Syafiq bukan sekadar pendaki yang tersesat; ia adalah martir bagi persahabatan yang tulus, yang memilih menantang maut demi menyelamatkan nyawa orang lain.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi dunia pendakian Indonesia bahwa gunung tidak pernah meminta untuk ditaklukkan, melainkan untuk dihormati dengan persiapan yang matang.
Kisah Syafiq memberikan pelajaran berharga bahwa persiapan teknis seperti membawa alat darurat (survival kit) saat pendakian “tektok” adalah mutlak, karena cuaca di puncak Slamet bisa berubah secepat kedipan mata.
Kejujuran informasi lokasi kepada keluarga juga merupakan kunci utama, sebagaimana pesan terakhir Syafiq kepada ibunya yang menyebut ia berada di Slame, padahal izin awalnya ke Sumbing menjadi petunjuk awal pencarian yang sangat krusial.
Kini, Syafiq Gunung Slamet telah benar-benar pulang ke keabadian yang tenang. Ia tidak lagi harus menggigil di bawah langit gelap Watu Langgar, melainkan beristirahat dengan damai di bawah naungan pohon pinus di pemakaman Magelang.
Sementara itu, Gunung Slamet tetap berdiri di sana, biru, kokoh, dan membisu di cakrawala, menyimpan rahasia tentang malam-malam dingin yang dilewati seorang pemuda pemberani dalam hening yang paling panjang






