SEMARANG, Banggasemarang.id – Satu dekade lalu, sudut jalan ini adalah tentang aroma sulfur yang menyengat, deru mesin yang tak sabar, dan aspal yang tak pernah dingin. Dulu, orang berhenti di sini hanya untuk mengisi tangki, bukan mengisi jiwa.
Namun hari ini, di persimpangan Jalan Pandanaran dan MH Thamrin, bau bensin itu telah lenyap—digantikan oleh percik air mancur dan tatapan garang namun jenaka dari sesosok makhluk mitologi yang menjaga jantung kota. Pemandangan hijau nan estetik ini adalah sebuah keajaiban urban yang sangat kontras dengan ingatan masa lalu.
Siapa sangka, titik paling ikonik Kota Semarang di pusat kota ini dulunya adalah tempat mesin-mesin pompa bensin menderu dan kendaraan mengantre panjang setiap harinya. Aspal panas eks-SPBU Pandanaran kini telah sepenuhnya bersalin rupa.
Sejak diresmikan sekitar satu dekade silam, Taman Pandanaran Semarang bukan sekadar ruang terbuka hijau biasa. Ia telah bertransformasi menjadi panggung budaya sekaligus magnet bagi para pemburu konten, pelancong urban, dan warga lokal yang mencari napas lega di tengah hiruk-pikuk kota. Perubahan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam penataan wajah kota Semarang yang lebih humanis melalui program revitalisasi ruang terbuka hijau.
Metamorfosis Ruang: Dari Pom Bensin Menuju Paru-Paru Kota
Sejarah mencatat bahwa sebelum tahun 2014, lahan strategis ini berfungsi sepenuhnya sebagai stasiun pengisian bahan bakar umum.
Transformasi ini bukanlah proses singkat, melainkan bagian dari visi besar untuk mempercantik jalur protokol yang menuju arah Simpang Lima. Kawasan yang dulunya gersang dan dipenuhi asap kendaraan kini berubah menjadi oase hijau yang menyejukkan mata setiap pengendara yang melintas.
Danang, seorang warga sekitar yang sore itu sedang duduk santai menikmati suasana taman, masih ingat betul transisi lokasi ini.
Dengan pandangan menerawang ke arah pepohonan rindang, ia mengonfirmasi bahwa wajah lokasi ini berubah total sekitar satu dekade lalu saat kebijakan pemerintah mulai memprioritaskan estetika kota.
“Iya betul mas, dulunya emang bekas pom bensin, udah lama ini jadinya [taman panadaran] sekitar tahun 2014 apa 2015 gitu mas, berarti sebelum tahun 2014 taman ini pom bensin dulunya,” kenang Danang saat ditemui di lokasi baru-baru ini.
Langkah Pemerintah Kota Semarang dalam mengubah area komersial menjadi taman terbukti mendapatkan apresiasi luas dari berbagai kalangan. Jejak digital di berbagai forum diskusi seperti grup Facebook Seputar Semarang pun dipenuhi nada nostalgia yang positif.
Akun @Budi_Smg, misalnya, menuliskan pengalamannya: “Masih ingat dulu kalau mau isi bensin antrinya di sini (Pandanaran). Sekarang sudah jadi taman bagus, lebih enak dipandang kalau lagi macet di lampu merah.” Komentar senada juga membanjiri laman Instagram Wisata Semarang, yang menyebut transisi ini sebagai “transformasi paling oke” karena berhasil mengubah area yang semula semrawut menjadi titik yang lebih rapi, teratur, dan tentunya sangat “Instagramable”.
Patung Warak Ngendog: Simbol Harmoni dalam Balutan Seni
Daya tarik utama yang berdiri kokoh di tengah taman dan menjadi pusat perhatian adalah Patung Warak Ngendog. Bagi pengunjung awam atau wisatawan luar kota, makhluk ini mungkin terlihat unik dan eksentrik dengan paduan bentuk berbagai hewan.
Namun bagi masyarakat Semarang, ia adalah personifikasi dari nilai-nilai luhur persatuan yang sudah mendarah daging, memperkuat statusnya sebagai ikon Kota Semarang.
“patung yang ditengah itu sebutane warak ngendok, ya itu mas simbolnya dari toleransi antar suku jawa, arab, sama cina [akulturasi budaya etnis],” jelas Danang mengenai makna mendalam di balik patung tersebut.

Makna akulturasi budaya ini terpancar jelas dari anatomi patungnya: bagian kepala menyerupai naga khas etnis Tionghoa, tubuh yang tegap layaknya unta yang mewakili pengaruh Arab, dan kaki yang menyerupai kambing sebagai representasi masyarakat lokal Jawa. Di tahun 2026, di tengah dinamika global yang terus berubah, keberadaan patung ini semakin relevan sebagai simbol fisik harmoni sosial yang terus dijaga di jantung kota.
Denyut Kehidupan Urban: Skateboard hingga Air Mancur
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada awal 2026 ini, Taman Pandanaran telah berkembang menjadi ruang multifungsi yang sangat dinamis bagi berbagai lapisan masyarakat.

Selain menjadi destinasi wisata gratis Semarang 2026, lokasi ini juga menjadi tempat nongkrong di Semarang yang favorit. Di sore hari, taman ini berubah menjadi arena berekspresi yang hidup dan penuh energi.
Tak jarang terlihat sekumpulan anak muda menunjukkan kebolehan mereka di atas papan skateboard, memanfaatkan kontur lantai taman yang mulus dan luas sebagai area berlatih trik-trik ekstrem. Hal ini menunjukkan bahwa taman kota kini bukan lagi sekadar pajangan atau hiasan kota, melainkan ruang interaksi aktif bagi komunitas kreatif untuk berkumpul dan berkarya.
Secara fasilitas, taman ini memang dirancang untuk menunjang kenyamanan publik di tengah cuaca Semarang yang sering kali terik. Pengunjung bisa menikmati deretan tempat duduk estetik di bawah naungan pohon peneduh yang mulai rimbun.
Kehadiran air mancur yang menari tepat di depan patung Warak Ngendog juga memberikan efek sejuk secara visual maupun audio bagi siapa saja yang singgah. Fasilitas pendukung dasar seperti toilet umum juga tersedia dan ditempatkan pada titik yang mudah dijangkau oleh pengunjung.
Namun, sebagaimana ruang publik yang terus tumbuh, pemeliharaan infrastruktur tetap menjadi catatan krusial bagi pemerintah setempat. Saat observasi lapangan dilakukan, terdapat satu fasilitas modern yakni kran air siap minum yang terpantau dalam keadaan mati dan tidak berfungsi. Hal ini menjadi harapan besar bagi warga agar aspek perawatan bisa berjalan beriringan dengan keindahan fisiknya.
Dengan pemeliharaan yang konsisten, Taman Pandanaran dipastikan akan tetap menjadi tempat “pengisian bahan bakar” jiwa yang paling digemari di Semarang, menggantikan fungsi lamanya sebagai tempat pengisian bahan bakar kendaraan.










