Riwayat 27 Bioskop Legendaris Semarang: Hancur Dihantam Krismon 1998, Kini Jadi Cagar Budaya

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menetapkan sisa bangunan bersejarah bergaya art-deco tersebut sebagai cagar budaya agar tidak digusur dan beralih fungsi.

Kondisi sisa bangunan bioskop stand-alone di Semarang yang pernah berjaya pada era 1980-an sebelum akhirnya gulung tikar akibat krisis moneter 1998.
Gemerlap neon fasad bergaya art-deco pada salah satu bioskop tua di Semarang di puncak masa keemasannya dekade 1980-an. Hiburan murah meriah ini hancur beruntun saat krisis ekonomi 1998. (foto: https://static.promediateknologi.id)

SEMARANG, Banggasemarang.id — Sebanyak 27 gedung bioskop legendaris di Kota Semarang yang pernah berjaya pada era 1980-an terpaksa gulung tikar akibat krisis moneter (Krismon) pada tahun 1998.

Saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menetapkan sisa bangunan bersejarah bergaya art-deco tersebut sebagai cagar budaya agar tidak digusur dan beralih fungsi.

Krisis ekonomi pada penghujung 1990-an menjadi pukulan telak bagi industri hiburan layar lebar lokal. Nilai tukar rupiah yang anjlok tajam membuat biaya operasional gedung dan harga bahan baku pita film seluloid impor meroket.

Di saat bersamaan, daya beli masyarakat hancur akibat krisis, diperparah dengan masuknya jaringan bioskop multipleks modern yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan.

Kondisi tersebut membuat nyaris seluruh bioskop stand-alone (bangunan mandiri) di ibu kota Jawa Tengah itu kolaps memasuki tahun 2000-an.

Badai kebangkrutan ini memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal bagi para pekerja operasional bioskop, mulai dari proyeksionis, pelukis poster, penjaga loket, hingga petugas pemeriksa karcis.

Pasca-kebangkrutan, nasib gedung-gedung tersebut terkatung-katung. Sebagian besar telah diratakan dengan tanah dan diubah fungsinya menjadi rumah toko (ruko) komersial atau mal, sementara sisanya dibiarkan terbengkalai.

Merespons ancaman hilangnya jejak sejarah kota, Pemkot Semarang melalui Portal Cagar Budaya mengeluarkan kebijakan pelestarian.

Sisa bangunan bersejarah eks-gedung bioskop, khususnya peninggalan era arsitektur kolonial Belanda seperti Gelora Theater dan Murni Theater, resmi masuk ke dalam daftar cagar budaya yang dilindungi keberadaannya.

Pada masa keemasannya, bioskop mandiri di Semarang bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang interaksi sosial lintas kelas. Nama-nama seperti Metro Theater di Jalan Mataram dan Gajah Mada Theater di Simpang Lima menjadi titik kumpul favorit warga.

Dengan harga karcis Rp150 hingga Rp200, masyarakat dari berbagai kalangan memadati gedung bioskop untuk menyaksikan film laga hingga horor.

Kini, kemeriahan tersebut hanya tertinggal sebagai kenangan kolektif yang terekam bisu di balik tembok-tembok kusam sisa bangunan cagar budaya di sudut Kota Semarang.