SEMARANG – Di luar gang sempit kawasan Kauman, suara bising klakson kendaraan metropolitan Semarang masih menderu tajam. Namun, begitu melangkah ke dalam mushola berlantai tegel dingin, suasana berubah seketika.
Aroma dupa meruap pelan, bercampur dengan petrichor hujan Januari yang basah. Puluhan pria bersarung duduk bersila, tubuh mereka bergoyang ritmis seiring lantunan “Ya Rabbi Shalli” dari kitab Al-Barzanji yang halaman-halamannya mulai menguning.
Inilah cara warga Atlas membasuh diri dalam sakralnya Bulan Rajab 1447 Hijriah di bawah naungan mendung awal tahun. Kehadiran bulan mulia ini bukan sekadar pergantian waktu biasa.
Bagi mereka, Rajab menjadi oase spiritual untuk menjemput keistimewaan Asyhurul Hurum—satu dari empat bulan yang disucikan Allah—melalui balutan tradisi Rajaban yang masih terjaga kuat. Di sela deru modernitas kota, gema istighfar mulai melangit, menandai awal perjalanan panjang menuju gerbang suci Ramadhan.
Kemuliaan Bulan Haram dan Pintu Ampunan
Status Rajab sebagai salah satu bulan haram yang Allah SWT muliakan menjadi keistimewaan utamanya. Mengacu pada informasi dari Kementerian Agama (Kemenag) RI, Rajab merupakan momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi diri atau muhasabah secara mendalam.
Di Semarang, para tokoh agama gencar menyampaikan pesan-pesan religius mengenai kemuliaan bulan ini, salah satunya adalah KH. Ahmad Darodji selaku Ketua MUI Jawa Tengah.
Beliau menekankan bahwa Rajab adalah “bulan menanam”. Setiap amal shalih yang umat tabur akan menjadi pondasi spiritual yang kuat sebelum memasuki Sya’ban dan Ramadhan. “Dalam tradisi Islam, Rajab adalah kesempatan emas untuk membersihkan jiwa.
Segala bentuk kemaksiatan di bulan ini dosanya lebih besar, namun sebaliknya, amal kebaikan pahalanya dilipatgandakan secara luar biasa oleh Allah SWT,” tutur KH. Ahmad Darodji. Pesan religi beliau sering menjadi rujukan utama bagi warga Kota Semarang yang mencari keteduhan spiritual.
Secara teologis, keistimewaan Rajab juga bersumber dari penyebutan sebagai bulan istighfar atau permohonan ampunan. Berbagai platform dakwah menyebutkan bahwa Rajab adalah waktu di mana rahmat Allah dicurahkan secara melimpah atau disebut sebagai Al-Ashab.
Oleh karena itu, warga Semarang umumnya mengamalkan doa barik lana bulan Rajab yakni “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana”. Doa tersebut menjadi manifestasi harapan agar mereka senantiasa mendapatkan kesehatan dan keberkahan umur.
Tradisi “Rajaban” di Semarang: Warisan Leluhur yang Terjaga
Semarang memiliki cara unik dalam menghidupkan kemuliaan bulan ini melalui kearifan lokal yang disebut tradisi Rajaban. Tradisi ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah manifestasi rasa syukur kolektif atas peristiwa besar Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 27 Rajab.
Masyarakat di perkampungan asli Semarang mengisi tradisi ini dengan pembacaan kitab Al-Barzanji atau Ad-Diba’i. Mulai dari gang-gang sempit di area Kauman hingga permukiman nelayan di pesisir utara, warga berkumpul di mushola-mushola setelah waktu Isya. Keistimewaan tradisi lokal ini terletak pada kemampuannya menyatukan nilai spiritualitas dengan penguatan jalinan silaturahmi antarwarga yang kini kian tergerus zaman.
Seorang warga Semarang, Hendra Wijaya (@hendrawijaya_smg), membagikan kesannya melalui unggahan di media sosial X yang viral: “Suasana Rajaban di kampung-kampung Semarang itu punya getaran beda. Bukan cuma soal doa, tapi bagaimana satu kampung kumpul, membaca shalawat bareng-bareng di tengah rintik hujan Januari. Itu yang bikin kita ngerasa tenang di tengah kesibukan kota yang makin padat ini”.
Amalan Jalur Langit dan Keistiqomahan Gen-Z
Semangat menjaga tradisi ini tak hanya terjadi di mushola, tapi juga merambah ke layar gawai. Data tren digital menunjukkan bahwa masyarakat Semarang sangat aktif mencari panduan amalan jalur langit bulan Rajab di awal tahun 2026 ini. Mereka memburu jadwal puasa sunnah karena menganggapnya sebagai salah satu amalan utama untuk melatih kendali diri. Selain puasa, warga juga fokus memperbanyak bacaan tasbih dan istighfar harian demi menjaga kejernihan hati di tengah dinamika hidup perkotaan.
Siti Aminah (@aminah_semarang), seorang pengguna TikTok asal Semarang, turut menyuarakan semangat beribadah meski cuaca ekstrem melanda Kota Atlas. Melalui kontennya, ia mengingatkan pentingnya konsistensi: “Rajab tahun ini tantangannya cuaca Semarang yang lagi sering hujan deras dan rob di utara. Rasanya mager (malas gerak), tapi justru di situlah nilai keistimewaannya. Kita dipaksa buat lawan rasa malas demi mengejar amalan istighfar 70 kali pagi dan sore. Jangan sampai lewatkan kemuliaan bulan ini hanya dengan rebahan”.
Makna Simbolis bagi Masyarakat Modern
Bagi warga urban Semarang, Rajab menjadi “jeda spiritual” yang sangat krusial. Nilai-nilai seperti menahan diri dari konflik dan meningkatkan kedamaian menjadi sangat relevan di tengah pembangunan infrastruktur kota yang masif. Tradisi Rajaban mengajarkan bahwa kemajuan fisik sebuah kota harus berjalan seimbang dengan kematangan spiritual serta mental warganya.
Akademisi studi Islam di Semarang, Dr. Hamdan Maghribi, menyatakan bahwa tradisi Rajab di Jawa merupakan mekanisme “pendinginan” sosial yang efektif. “Saat orang-orang berkumpul untuk berdoa dan bershalawat di bulan Rajab, tensi sosial cenderung menurun dan rasa persaudaraan semakin menguat. Itulah keistimewaan hakiki yang secara tidak langsung menjaga keharmonisan dan stabilitas Kota Semarang selama berabad-abad,” jelasnya.
Melalui pemahaman akan keistimewaan ini, Bulan Rajab 1447 H diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh warga Semarang untuk kembali ke fitrah, memperkuat iman, serta menyebarkan kasih sayang. Keberlanjutan tradisi Rajaban membuktikan bahwa di bawah gemerlap lampu kota, Semarang tetaplah kota yang memegang teguh akar spiritualitasnya.






