Twin Tower Undip Pleburan: Kenangan Masa Lalu Bertransformasi untuk Masa Depan

Universitas Diponegoro (Undip) tengah mendirikan "Twin Tower" atau Menara Kembar yang dijanjikan akan mengubah wajah edukasi dan lanskap urban di Jawa Tengah.

Progres Twin Tower Undip Pleburan 2026: Ikon baru Universitas Diponegoro di Semarang dengan fasilitas modern. Simbol kebangkitan pendidikan Indonesia.
-Progres Twin Tower Undip Pleburan 2026: Ikon baru Universitas Diponegoro di Semarang dengan fasilitas modern. Simbol kebangkitan pendidikan Indonesia.

SEMARANG, Banggasemarang.id — Udara di kawasan Pleburan pagi itu terasa berbeda. Di antara deru mesin konstruksi dan kesibukan pekerja berhelm kuning, sebuah ambisi besar sedang dipahat di jantung Kota Semarang.

Universitas Diponegoro (Undip) tengah mendirikan “Twin Tower” atau Menara Kembar yang dijanjikan akan mengubah wajah edukasi dan lanskap urban di Jawa Tengah.

Proyek ambisius ini bukan sekadar pembangunan gedung tinggi, melainkan sebuah monumen transisi yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan kebutuhan masa depan. Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengungkapkan sebuah kalimat filosofis yang mendalam: “Kenangan harus kalah dengan kenyataan”. Kalimat ini merujuk pada beberapa gedung lama di Kampus Pleburan yang harus diruntuhkan demi memberi ruang bagi fasilitas modern yang lebih relevan dengan tuntutan zaman.

Arsitektur Modern dengan Jiwa Komunitas

Twin Tower Undip dirancang untuk berdiri kokoh setinggi 15 lantai, menjulang sekitar 60 meter ke langit Semarang. Angka ketinggian ini tidak dipilih secara acak, melainkan telah diperhitungkan dengan sangat matang agar tetap mematuhi aturan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP), mengingat lokasinya yang berada dalam jalur udara kota.

Namun, yang mencuri perhatian publik bukanlah sekadar kemegahan fisiknya, melainkan konsep revolusioner yang diusungnya: Living-Learning Community.

Berbeda dengan gedung perkuliahan tradisional yang cenderung kaku dan formal, menara kembar ini didesain untuk menyatukan fungsi akademik dan interaksi sosial dalam satu harmoni yang cair.

Visualisasinya sangat konkret: di sini, diskusi skripsi tidak lagi harus terkungkung di ruang dosen yang sempit atau lorong-lorong sunyi.

Interaksi intelektual bisa terjadi secara organik di skybridge kaca yang menggantung di ketinggian 60 meter, menghubungkan kedua menara sambil menawarkan pemandangan kawasan Simpang Lima sebagai latar belakangnya.

Mahasiswa tidak hanya akan menemukan ruang kelas dengan teknologi mutakhir, tetapi juga ruang-ruang terbuka hijau dan laboratorium kolaborasi yang dirancang untuk memicu kreativitas tanpa batas.

Secara fungsional, pembangunan ini terbagi menjadi dua fase utama. Tower I akan menjadi pusat pendidikan modern dengan fasilitas pembelajaran terpadu, termasuk kantor administratif dan ruang kuliah bagi program pascasarjana seperti Magister Hukum, Magister Kenotariatan, serta Sekolah Vokasi di bidang Sosial dan Humaniora.

Sementara itu, Tower II akan dibangun menyusul sebagai pelengkap ekosistem akademik tersebut.

Kecanggihan Teknik di Balik Layar

Di balik kemegahan desain visualnya, terdapat kecanggihan teknik konstruksi yang dikawal ketat oleh PT PP (Persero) Tbk sebagai kontraktor pelaksana.

Mengingat kondisi tanah Semarang yang menantang, pembangunan ini menggunakan metode Bore Pile (fondasi tabung beton yang ditanam) dengan kedalaman mencapai 25 meter guna memastikan fondasi mampu menopang beban struktural gedung yang masif.

Proyek senilai Rp355 miliar ini juga menonjolkan aspek keberlanjutan sebagai pilar utamanya. Implementasi konstruksi ramping (lean construction) dilakukan secara ketat untuk meminimalisir limbah material di lokasi proyek.

Penggunaan teknologi seperti adjustable decking (sistem cetakan beton yang dapat disesuaikan) dan tile spacer reuse (penggunaan kembali alat pengatur jarak keramik) menjadi bukti efisiensi sumber daya dalam proyek ini.

Target akhirnya adalah menjadikan Twin Tower sebagai Green Building yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga ramah terhadap lingkungan.

Revitalisasi Pleburan: Menuju Pusat Ekonomi Baru

Hadirnya Twin Tower juga diproyeksikan menjadi penggerak ekonomi (economic driver) yang kuat bagi kawasan Semarang Selatan.

Selama beberapa tahun terakhir, aktivitas mahasiswa mayoritas terkonsentrasi di Kampus Tembalang, yang secara perlahan membuat kawasan Pleburan kehilangan sedikit gairahnya dan mulai dicap sebagai “kampus tua”.

Dengan kembalinya ribuan mahasiswa pascasarjana dan kalangan profesional ke Twin Tower, sektor UMKM, bisnis kuliner, dan hunian di sekitar Pleburan diprediksi akan kembali berdenyut kencang.

Prof. Suharnomo membayangkan kawasan ini bertransformasi tidak hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai destinasi bisnis dan pariwisata pendidikan kelas dunia.

“Ini adalah bagian dari rencana induk (masterplan) Undip 2023-2032,” jelas Kepala Proyek dari tim teknis pembangunan. “Kami ingin memaksimalkan aset yang ada agar memberikan dampak sosial dan ekonomi yang luas bagi masyarakat sekitar”.

Lokasi yang sangat strategis di pusat kota menjadikan Twin Tower sebagai ikon megah yang akan meningkatkan daya tarik investasi dan akademisi mancanegara ke Semarang.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Pembangunan skala raksasa di tengah kota tentu bukan tanpa tantangan. Manajemen lalu lintas di sekitar jalan Pleburan yang padat serta mitigasi dampak lingkungan selama masa konstruksi terus menjadi prioritas utama tim pelaksana. Namun, dengan progres yang terus menunjukkan tren positif, optimisme besar menyelimuti seluruh pihak.

Pembangunan Tower I dijadwalkan rampung pada Maret 2026, yang kemudian akan diikuti oleh fase kedua hingga tahun 2027. Bagi para mahasiswa, kehadiran menara ini adalah janji akan fasilitas belajar yang lebih layak dan modern. Bagi para alumni, ini adalah kebanggaan melihat almamater mereka terus bersolek dan siap berkompetisi di kancah global.

Twin Tower Undip di Pleburan adalah simbol keberanian untuk melangkah maju tanpa pernah melupakan akar sejarahnya. Ia adalah bukti nyata bahwa sebuah universitas tidak boleh bersifat statis. Di bawah bayang-bayang menara kembar ini kelak, ribuan ide akan lahir, ratusan riset akan dituntaskan, dan generasi baru pemimpin bangsa akan ditempa.

Ketika lampu-lampu di lantai 15 menyala untuk pertama kalinya nanti, ia tidak hanya akan menerangi langit Pleburan, tetapi juga menandai babak baru yang gemilang dalam sejarah pendidikan tinggi di Indonesia. Sebuah perpaduan sempurna antara memori masa lalu yang indah dengan kenyataan masa depan yang penuh harapan.