Otoritas Pena Kyai Soleh Darat: Perlawanan Intelektual Terhadap Kolonialisme Belanda

Dr. Suryadi mendorong Pemerintah Pusat agar mempertimbangkan perjuangan Kyai Soleh Darat, khususnya melalui pengajaran, pemikiran, dan karya-karyanya, dalam aspek akademis.

Sejarawan Leiden University, Dr. Suryadi, menyoroti kontribusi Kyai Soleh Darat dalam melawan kolonialisme Belanda lewat jalur intelektual dan kultural. (Foto: Nurdin Nugroho/Bangga Semarang)

SEMARANG, Banggasemarang.id – Perjuangan fisik melawan penjajah kerap mendominasi narasi sejarah, namun kontribusi Kyai Soleh Darat asal Semarang dalam melakukan resistensi intelektual dan kultural terhadap pemerintah kolonial Belanda kian mendapat sorotan.

Peneliti dan pengajar dari Leiden University, Belanda, Dr. Suryadi, saat seminar di Kota Semarang baru-baru ini menegaskan bahwa pilihan Kyai Soleh Darat untuk menggunakan pena dan kapasitas intelektual dalam mentransformasi santri dan masyarakat pada masanya merupakan langkah yang tidak boleh dipandang remeh.

Baca juga: Kiai Soleh Darat Diusulkan Pahlawan Nasional, Seminar Internasional Kuatkan Kontribusi Intelektual

Dr. Suryadi mendorong Pemerintah Pusat agar mempertimbangkan perjuangan Kyai Soleh Darat, khususnya melalui pengajaran, pemikiran, dan karya-karyanya, dalam aspek akademis.

Dalam pandangan Dr. Suryadi, terdapat beberapa ajaran dan praktik Kyai Soleh Darat di masa itu yang secara subtil dapat dipahami sebagai bentuk resistensi terhadap kekuasaan kolonial. Salah satunya adalah larangan yang ia terapkan kepada santri-santrinya untuk meniru mode busana ala Eropa atau Belanda.

Lebih jauh, Kyai Soleh Darat menunjukkan sikap perlawanan kultural melalui pilihan medium pengajarannya.

Alih-alih mengadopsi aksara Latin yang saat itu tengah didorong oleh pemerintah kolonial Belanda, beliau memilih untuk menggunakan aksara Arab-Jawa (Pegon).

Keputusan ini dinilai sebagai upaya mempertahankan identitas lokal dan menghindari hegemoni budaya penjajah.

Selain perlawanan yang terekam dalam praktik pengajaran, Dr. Suryadi turut menyinggung adanya sebuah “folklore” atau cerita rakyat yang beredar tentang Kyai Soleh Darat.

Cerita tersebut menyebutkan bahwa beliau mengajarkan santri-santrinya untuk menggunakan kaki kanan terlebih dahulu saat memasuki kantor-kantor pemerintah kolonial Belanda.

Hal ini dianggap sebagai tindakan simbolis untuk melawan semacam aturan tidak tertulis dari Belanda yang kala itu konon memerintahkan kaum pribumi agar menggunakan kaki kiri mereka terlebih dahulu saat masuk ke institusi kolonial.

Meskipun demikian, Dr. Suryadi menekankan kehati-hatian dalam menyikapi cerita lisan tersebut.

“Akan tetapi ini belum ada referensi tertulisnya, masih saya cari. Namun, sejarah lisan itu bukan berarti tak ada kebenarannya, tetap perlu kita catat,” pungkasnya.

Penelitian ini bertujuan untuk memperjelas dan mendokumentasikan bagaimana ulama Nusantara menggunakan jalur pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perlawanan yang cerdas dan humanis terhadap cengkeraman kolonialisme.