SEMARANG, Banggasemarang.id – Warga yang tinggal di kawasan perumahan pinggiran Kota Semarang kini tak perlu lagi bingung mencari angkutan umum menuju jalan raya setiap pagi.
Melalui layanan mikrobus pengumpan (feeder) yang beroperasi pukul 05.30–17.30 WIB, Badan Pengelola Trans Semarang menjemput penumpang langsung dari jalan lingkungan perumahan menuju koridor utama Bus Rapid Transit (BRT) dengan tarif terintegrasi mulai Rp1.000 hingga Rp4.000.
Selama ini, jarak antara gerbang perumahan dan jalan protokol kerap menjadi kendala bagi warga yang ingin beralih ke transportasi publik. Bus BRT berukuran sedang maupun besar tidak memungkinkan masuk ke gang utama atau jalan permukiman yang sempit.
Kehadiran armada mikrobus feeder menjadi penjawab celah tersebut dengan menyusuri langsung kawasan padat penduduk di berbagai sudut kota.
Pergerakan mikrobus ini tampak membelah sejumlah kawasan permukiman utama sejak pagi hari.
Di wilayah barat, Feeder 1 (Ngaliyan–Suratmo) melayani warga perumahan padat di Ngaliyan dan Beringin yang hendak menuju kawasan perkotaan di sekitar Jalan Suratmo. Sementara di sisi timur, mobilitas warga perumahan di Genuk dan Semarang Timur terhubung langsung ke pusat kegiatan masyarakat melalui Feeder 2 (Bangetayu–Kebonharjo/Terboyo).
Jangkauan serupa juga dirasakan warga yang bepergian lintas wilayah atas dan bawah. Feeder 3 (Penggaron–Banyumanik) menjadi jalur alternatif yang menghubungkan permukiman Semarang Timur langsung menuju kawasan Banyumanik. Adapun bagi mahasiswa dan warga di area selatan, Feeder 4 (Unnes–Candi Baru/Mijen) hadir menyusuri kawasan pendidikan di Gunungpati hingga permukiman warga di Mijen.
Sekali Bayar Sampai Pusat Kota
Kenyamanan bermobilitas dari depan gerbang perumahan ini ditopang oleh sistem integrasi tarif yang ramah di kantong. Penumpang cukup membayar satu kali saat naik mikrobus feeder, lalu bebas berpindah ke bus koridor utama BRT dalam batas waktu tertentu tanpa dikenai biaya tambahan hingga tiba di tujuan. Bagi penumpang umum, tarif dipatok Rp3.500 untuk pembayaran nontunai dan Rp4.000 untuk pembayaran tunai.
Pemerintah juga memberikan tarif khusus senilai Rp1.000 per perjalanan bagi pelajar, mahasiswa, pemegang Kartu Identitas Anak (KIA), balita di bawah lima tahun, warga lanjut usia (60 tahun ke atas), veteran, serta penyandang disabilitas. Untuk menikmati tarif Rp1.000 ini, pelajar dan mahasiswa cukup memperlihatkan kartu identitas aktif (Kartu Pelajar, Kartu Mahasiswa, Kartu Santri, atau KIA) kepada petugas, sedangkan penumpang lansia hanya perlu menunjukkan KTP elektronik (e-KTP).
Pantau Armada dari Rumah dan Cara Pesan Tiket
Cara menikmati layanan ini pun dirancang praktis mengikuti kebiasaan masyarakat masa kini. Sebelum keluar rumah, warga dapat membuka aplikasi Trans Semarang (tersedia di Google Play Store dan App Store) untuk memantau pergerakan mikrobus terdekat secara langsung (real-time) sekaligus mengecek lokasi titik henti (shelter) resmi di sekitar perumahan. Pembelian tiket digital juga dapat diselesaikan langsung di dalam aplikasi sesuai golongan penumpang menggunakan layanan pembayaran terintegrasi seperti AstraPay.
Bagi penumpang yang memilih bertransaksi langsung saat naik di titik henti maupun halte transit, pramujasa di dalam mikrobus siap melayani pembayaran nontunai maupun tunai.
Penumpang nontunai cukup memindai kode QRIS melalui aplikasi mobile banking atau dompet digital, maupun menempelkan kartu uang elektronik perbankan (e-money) dan Kartu Trans Semarang. Sementara itu, pengguna uang tunai dapat langsung menyerahkan uang pas kepada pramujasa.
Mengingat Badan Pengelola Trans Semarang terus melakukan evaluasi serta penyesuaian rute dan titik pemberhentian secara berkala mengikuti kebutuhan warga, masyarakat disarankan rutin memeriksa aplikasi Trans Semarang sebelum bepergian agar perjalanan harian semakin terencana.


