SEMARANG, Banggasemarang.id – Kesenian tradisional Wayang Potehi yang dibawa perantau Tiongkok sejak abad ke-16 masih kokoh bertahan di tengah arus modernisasi Kota Semarang.
Tidak sekadar tontonan, pertunjukan boneka kantong kain ini menjadi ritual sakral, bentuk penghormatan kepada leluhur, sekaligus penanda identitas budaya yang terus hidup di kawasan Pecinan.
Berasal dari Fujian, Tiongkok Selatan, nama kesenian ini diambil dari bahasa Hokkian yakni pou (kain), te (kantong), dan hi (boneka).
Dalam setiap pementasannya, sang dalang menghidupkan tokoh-tokoh legenda klasik Tiongkok bermodalkan kelihaian lima jari tangan; tiga jari mengendalikan kepala, sedangkan ibu jari dan kelingking menggerakkan kedua tangan boneka.
Kawasan Pecinan Kota Semarang, khususnya Kelenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok, menjadi ruang utama pelestarian tradisi ini.
Bagi masyarakat pendukungnya, Potehi tidak bisa dilepaskan dari konteks spiritual. Pertunjukan ini kerap hadir memeriahkan Tahun Baru Imlek dan berbagai ritual keagamaan sebagai medium penyampai doa dan rasa syukur kepada dewa.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman, Wayang Potehi membuktikan kemampuannya beradaptasi.
Dari balik panggung kecil dan kelincahan jari sang dalang, kesenian ini terus merawat memori kolektif, menceritakan ulang sejarah, dan menjaga warisan budaya lintas abad agar tidak lekang dimakan waktu.
