Tarian Mistis Berpadu Dangdut Koplo, Jathilan Makin Eksis Digandrungi Warga Semarang

Kini, pertunjukan tersebut tidak hanya mempertahankan unsur murni tari dan gamelan tradisional, tetapi juga menghadirkan inovasi agar tetap relevan dengan selera masyarakat modern.

Pertunjukan kesenian Jathilan Semarang dengan atraksi ndadi.
Penari Jathilan di Semarang menampilkan atraksi kuda kepang yang memadukan unsur budaya lokal dengan iringan musik modern. (Sumber:ngesrep.semarangkota.go.id)

SEMARANG, Banggasemarang.id — Kesenian tradisional Jathilan atau Kuda Lumping terus bertahan dan semakin digandrungi oleh masyarakat di wilayah Kota maupun Kabupaten Semarang.

Daya tarik utama yang memadukan atraksi mistis ndadi (kesurupan) dengan iringan musik dangdut koplo membuat pertunjukan tari ini selalu menjadi primadona warga dalam berbagai acara, mulai dari bersih desa, nyadran, hingga festival budaya.

Perkembangan Jathilan di Semarang tidak lepas dari proses adaptasi budaya dengan wilayah sekitarnya, seperti Magelang dan Yogyakarta.

Kini, pertunjukan tersebut tidak hanya mempertahankan unsur murni tari dan gamelan tradisional, tetapi juga menghadirkan inovasi agar tetap relevan dengan selera masyarakat modern.

“Tidak hanya mempertahankan gamelan tradisional, kami juga memasukkan karakter Buto, Barongan, dengan gerakan gedruk, hingga iringan musik dangdut dan koplo. Perpaduan ini membuat suasana pertunjukan semakin dinamis tanpa meninggalkan identitas utamanya,”ungkap salah satu pegiat paguyuban seni Jathilan di Semarang.

Momen yang paling ditunggu penonton sekaligus sering menjadi sorotan adalah atraksi ndadi. Pada fase ini, sebagian penari memasuki kondisi trance (bawah sadar) dan melakukan berbagai gerakan di luar nalar. Kehadiran karakter Buto dan Barongan semakin memperkuat aura magis namun tetap menghibur.

Eksistensi kesenian ini ditopang oleh dedikasi berbagai paguyuban seni akar rumput. Sejumlah kelompok seperti Wahyu Turangga Seta, Griyo Soko Seni, Turonggo Jati, Krido Gajah Barong, hingga Turangga Aji terus menjadi motor penggerak kelestarian kuda lumping di Semarang dan sekitarnya.

Di era digital, Jathilan juga sukses berekspansi menemukan ruang baru. Dokumentasi amatir hingga profesional yang tersebar di media sosial membuat kesenian ini kerap viral dan menjangkau audiens muda secara masif.

Menyebar dari Gunungpati, Mijen, hingga Ambarawa dan Banyubiru, Jathilan membuktikan bahwa tradisi bisa beradaptasi dengan perubahan zaman. Selama masyarakat terus menari dan menabuh gamelan, dentam kuda kepang akan terus menggema di Semarang.